Antenatal care

BAB I

PENDAHULUAN

 

  1. A.  LATAR BELAKANG

Berbagai perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi kebidanan dapat dikembangkan sehingga dapat menurunkan angka kematian ibu (AKI) 390/100.000 dan angka kematian perinatal (AKP) 56/100.000 persalinan hidup yang merupakan angka tertinggi di Asean. Angka kematian perinatal (AKP) dengan cepat dapat diturunkan karena sebagian besar dirawat di rumah sakit, tetapi angka kematian ibu (AKI) memerlukan perjalanan panjang untuk dapat mencapai sasaran yang berarti. Sebagai negara dengan keadaan geografis yang beraneka dan luas, angka kematian ibu bervariasi antara: 5.800/100.000 sedangkan angka kematian perinatal berkisar antara 25-750/100.000 persalinan hidup.

Untuk dapat mempercepat tercapainya penurunan angka kematian ibu dan angka kematian perinatal disetiap rumah sakit baik pemerintah maupun rumah sakit swasta telah dicanangkan gagasan untuk meningkatkan pelayanan terhadap ibu dan bayinya melalui RS sayang bayi dan RS sayang ibu. Kalau dikaji lebih mendalam bahwa proses kematian ibu mempunyai perjalanan yang panjang sehingga pencegahan dapat dilakukan sejak melakukan “Antenatal Care” (pemeriksaan kehamilan) melalui pendidikan berkaitan dengan kesehatan ibu hamil, menyusui dan kembalinya kesehatan alat reproduksi, serta menyampaikan betapa pentingnya interval kehamilan berikutnya sehingga dapat tercapai sumber daya manusia yang diharapkan (Mannabe IBG, 2001:88 – 93).

Secara nasional cakupan K1 (kunjungan pertama kali) ke fasilitas kesehatan adalah 84,54% sedang cakupan K4 adalah 64,06% ini berarti masih terdapat 15,46% ibu hamil yang tidak melakukan kunjungan ulang ke fasilitas kesehatan (DEPKES RI, 1997). Puskesmas dalam memberikan pelayanan antenatal hendaknya menggunakan asuhan standar minimal yang telah ditetapkan oleh pemerintah sejak tahun 1999 menjadi standar “7T” yang dahulunya hanya “5T”. Standar minimal ibu hamil “7T” tersebut yaitu timbang berat badan, ukur tekanan darah, ukur tinggi fundus uteri, pemberian imunisasi TT, pemberian tablet Fe, tes penyakit menular seksual (tes laboratorium) dan temu wicara dalam rangka persiapan rujukan. Akan tetapi skarang asuhan antenatal itu sendiri menjadi 10 T yakni selain 7T diatas, ditambahkan dengan mengukur nilai status gizi, tata laksana kasus dan tentukan presentasi janin dan denyut jantung janin.

 

  1. B.  RUMUSAN MASALAH

Rumusan masalah akan memberikan gambaran mengenai apa yang mesti dibahas di bab selanjutnya. Beberapa rumusan masalah yang ingin penulis kaji adalah sebagai berikut:

  1. Apa definisi Antenatal Care (ANC)?
  2. Apa saja tujuan Antenatal Care (ANC)?
  3. Apa saja manfaat Antenatal Care (ANC)?
  4. Bagaimana jadwal pemeriksaan Antenatal Care (ANC)?
  5. Bagaimana  Jenis Pemeriksaan dalam Pelayanan Antenatal Care (ANC)?
  6. Apa saja Kebijakan pelayanan antenatal care (ANC)?
  7. Bagaimana Pemberian imunisasi tetanus toxoid lengkap, Pemberian tablet Fe, dan Temu wicara dalam pelaksanaan pelayanan Antenatal Care (ANC)?

 

  1. C.  TUJUAN PENULISAN

Makalah ini ditulis dengan tujuan sebagai berikut :

  1. Untuk mengetahui apa itu Antenatal Care (ANC)
  2. Untuk mengetahui tujuan Antenatal Care (ANC)
  3. Untuk mengetahui manfaat Antenatal Care (ANC)
  4. Untuk mengetahui jadwal pemeriksaan pelayanan Antenatal Care (ANC)
  5. Untuk mengetahui jenis pemeriksaan dalam pelayanan Antenatal Care ANC
  6. Untuk mengetahui kebijakan pelayanan Antenatal care (ANC)
  7. Untuk mengetahui Pemberian imunisasi tetanus toxoid lengkap, Pemberian tablet Fe, dan Temu wicara dalam pelayanan Antenatal Care

 

 

BAB II

PEMBAHASAN

 

2.1 DEFINISI ANTENATAL CARE (ANC)

Antenatal Care (ANC) atau pelayanan asuhan antenatal adalah pemeriksaan kehamilan yang diberikan oleh bidan atau dokter kepada ibu selama masa kehamilan untuk mengoptimalisasikan kesehatan mental dan fisik ibu hamil, sehingga mampu menghadapi persalinan, nifas, persiapan memberikan ASI, dan kembalinya kesehatan reproduksi secara wajar (Manuaba, 1998).

Antenatal Care : Perawatan sebelum masa persalinan atau perawatan pada ibu hamil (Ibrahim Cristina. S, 1993 : 49).

Antenatal Care : Pemeriksaan kehamilan yang dilakukan untuk memeriksakan ibu dan janin secara berkala yang diikuti dengan upaya koreksi terhadap penyimpangan yang ditemukan (Mochtar, 1998 : 48).

Pemeriksaan antenatal adalah pemeriksaan kehamilan yang dilakukan untuk memeriksa keadaan ibu dan janin secara berkala, yang diikuti dengan upaya koreksi terhadap penyimpangan yang ditemukan (Pedoman Pelayanan Antenatal di Tingkat Pelayanan Dasar, 2004 : 1).

Pengawasan antenatal adalah pengawasan sebelum persalinan terutama untuk ditujukan pada pertumbuhan dan perkembangan janin dalam rahim (Manuaba, 2002 : 129).

Pemeriksaan antenatal adalah pemeriksaan kehamilan yang dilakukan untuk memeriksa keadaan ibu dan janin secara berkala, yang diikuti dengan upaya koreksi terhadap kegawatan yang ditemukan (Depkes RI, 2004 : 12).

Pelayanan atau asuhan merupakan cara untuk memonitor dan mendukung kesehatan ibu hamil dan mendeteksi ibu dengan kehamilan normal (Prawirohardjo, 2000 : 89).

Salah satu fungsi terpenting dari perawatan antenatal adalah untuk memberikan saran dan informasi pada seorang wanita mengenai tempat kelahiran yang tepat sesuai dengan kondisi dan status kesehatannya. Perawatan antenatal juga merupakan suatu kesempatan untuk menginformasikan kepada para wanita mengenai tanda – tanda bahaya dan gejala yang memerlukan bantuan segera dari petugas kesehatan (WHO, 2004 : 8).

 

2.2 TUJUAN ANTENATAL CARE (ANC)

2.2.1 Tujuan Umum

Menyiapkan seoptimal mungkin fisik, mental ibu dan janin selama kehamilan, persalinan dan nifas sehingga didapatkan ibu dan anak yang sehat (Mochtar, 1998 : 47).

2.2.2 Tujuan Khusus

1. Mengenali dan menangani penyulit-penyulit yang mungkin dijumpai dalam kehamilan, persalinan dan nifas.

2. Mengenali dan mengobati penyakit-penyakit yang mungkin diderita sedini mungkin.

3. Menurunkan angka morbiditas dan mortalitas ibu dan anak.

4. Memberikan nasehat tentang cara hidup sehari-hari dan Keluarga Berencana, kehamilan persalinan, nifas dan laktasi (Mochtar,    1998 : 48).

 Perawatan antenatal mempunyai tujuan agar kehamilan dan persalinan berakhir dengan:

1. Ibu dalam kondisi selamat selama kehamilan, persalinan dan nifas tanpa trauma fisik maupun mental yang merugikan.

2. Bayi dilahirkan sehat, baik fisik maupun mental.

3. Ibu sanggup merawat dan memberi ASI kepada bayinya.

4. Suami istri telah ada kesiapan dan kesanggupan untuk mengikuti keluarga berencana setelah kelahiran bayinya (Poedji Rochjati, 2003 : 41).

 

2.3 MANFAAT ANTENATAL CARE (ANC)

Banyak manfaat yang bisa diperoleh Ibu Hamil melalui Pelaksanaan ANC. Manfaat tersebut adalah sebagai berikut:

1      Memastikan kehamilan melalui alat konvensional atau yang modern seperti ultrasonografi (USG), bidan atau dokter akan memastikan kehamilan.

2      Memastikan apakah kehamilan berada di rahim.
Posisi kehamilan perlu diketahui sedini mungkin dengan USG, agar bila terjadi sesuatu dapat dilakukan tindakan sedini mungkin.

3      Mengetahui usia kehamilan yang berguna untuk memperkirakan kapan prediksi kelahiran.

4      Mengetahui perkembangan janin karena perkembangan janin dalam kandungan merupakan salah satu faktor penentu perkembangan mental intelektual selanjutnya.

5      Meneropong kelainan selama kehamilan sehingga jika dicurigai ada kelainan janin, dapat dilakukan upaya seperti amniocenesis, yakni mengambil cairan ketuban (amnion) dan menganalisa kromosomnya.

6      Mengetahui posisi bayi. Dalam hal ini, dokter atau bidan dapat mengetahui posisi janin, terutama pada trimester 3. Misalnya bayi sungsang atau melintang. Tujuannya agar ibu dan bayi mendapat pertolongan yang tepat ketika waktu persalinan tiba.

7      Mengetahui apa saja penyakit kehamilan. Seiring bertambahnya usia kehamilan, beban organ tubuh ibu akan semakin bertambah. Beberapa gangguan yang mungkin muncul antara lain:

  1. Kadar hemoglobin (Hb) rendah
  2. Diabetes gestasional
  3. Pre-eklampsia/ eklampsia
  4. Tanda bahaya pada kehamilan misalnya Perdarahan vaginal, bengkak muka atau jari, nyeri kepala berat atau lama, penglihatan kabur, muntah terus-terusan, demam, nyeri waktu kencing, keluar cairan banyak dari vagina, gerak anak bertambah atau hilang.

 

 

 

 

2.4  JADWAL PEMERIKSAAN ANTENATAL CARE

  1. Jadwal dalam melakukan pemeriksaan Antenatal Care sebanyak 12 – 13 kali selama kehamilan. Di negara berkembang pemeriksaan Antenatal Care dilakukan sebanyak 4 kali sudah cukup sebagai kasus tercatat.
    1. Pemeriksaan pertama dilaksanakan segera setelah diketahui terlambat haidnya satu bulan.
    2. Pemeriksaan ulang setiap dua minggu sampai umur kehamilan delapan bulan.
    3. Pemeriksaan ulang setiap minggu sesudah umur kehamilan delapan bulan sampai terjadinya persalinan.
    4. Kunjungan Antenatal Care sebaiknya dilakukan 4 kali selama kehamilan yaitu trimester pertama 1 kali (sebelum 14 minggu), trimester kedua 1 kali (antara minggu 14-28) dan trimester ketiga 2 kali (antara minggu 28-36 dan sesudah minggu ke 36).

Kunjungan antenatal care ( ANC ) sebaiknya dilakukan 4 kali selama kehamilan, yaitu :

  1. 1.    Satu kali pada trimester pertama, yaitu :
  • Membina hubungan saling percaya antara bidan dan ibu sehingga suatu mata rantai penyelamatan jiwa telah terbina jika diperlukan.
  • Mendeteksi masalah yang dapat diobati sebelum menjadi bersifat mengancam jiwa.
  • Mencegah masalah, seperti tetanus neonatorum, anemia defisiensi zat besi, penggunaan praktek tradisional yang merugikan.
  • Memulai persiapan persalinan dan kesiapan untuk menghadapi komplikasi.
  • Mendorong prilaku yang sehat ( nutrisi, latihan, dan kebersihan, istirahat dan sebagainya ).
  1. 2.    Satu kali pada trimester kedua ( sebelum minggu ke 28 ), yaitu :
  • Sama seperti kunjungan pada trimester pertama.
  • Perlu kewaspadaan khusus mengenai pre eklampsia, pantauan tekanan darah, periksa protein urine dan gejala yang lainnya.
  1. 3.    Dua kali pada trimester ketiga, yaitu :
  • Sama seperti kunjungan sebelumnya.
  • Perlu adanya palpasi abdomen untuk mendeteksi adanya kehamilan ganda.
  • Deteksi kelainan letak atau kondisi lain yang memerlukan kelahiran di Rumah Sakit.
  1. Perlu segera memeriksakan kehamilan bila dilaksanakan ada gangguan atau bila janin tidak bergerak lebih dari 12 jam (Pusdiknaes, 2003:45).

 

Tinjauan tentang Kunjungan Ibu Hamil

Kontak ibu hamil dan petugas yang memberikan pelayanan untuk mendapatkan pemeriksaan kehamilan, istilah kunjungan tidak mengandung arti bahwa selalu ibu hamil yang ke fasilitas tetapi dapat juga sebaliknya, yaitu ibu hamil yang dikunjungi oleh petugas kesehatan (Depkes RI, 1997:57).

 

2.5 JENIS PEMERIKSAAN DALAM PELAYANAN ANTENATAL CARE (ANC)

  1. Pemeriksaan fisik

1)        Pemeriksaan fisik umum

  1. Tinggi badan
  2. Berat badan, TTV : Tekanan darah, nadi, pernapasan, suhu

2)        Kepala dan leher

  1. Edema pada wajah
  2. Ikterus pada mata
  3. Mulut pucat
  4. Leher, pembesaran kelenjar tiroid

3)        Tangan dan kaki

  1. Edema di ujung jari
  2. Kuku jari pucat
  3. Varices vena
  4. Reflek/patella resiko atau tidak

4)        Payudara

  1. Ukuran simetris
  2. Puting susu menonjol atau masuk
  3. Keluarnya kolustrum atau cairan lain
  4. Massa, ada/tidak ada
  5. Nodul axilla

5)        Abdomen

  1. Luka bekas operasi
  2. Tinggi fundus uteri (jika > 12 minggu)
  3. Letak presentasi, posisi dan penurunan kepala (kalau > 36 minggu)
  4. Denyut jantung janin (DJJ) jika > 18 minggu

6)        Genetalia Luar (Eksternal)

  1. Varices
  2. Perdarahan
  3. Luka
  4. Cairan yang keluar
  5. Pengeluaran dari uretra dan skene
  6. Kelenjar bartholin, bengkak (massa), cairan yang keluar

7)        Genetalia Dalam (Internal)

  1. Serviks meliputi cairan yang keluar, luka (lesi), kelunakan, posisi mobilitas, tertutup atau terbuka.
  2. Vagina meliputi cairan yang keluar
  3. Ukuran adneksa, bentuk, posisi, mobilitas, kelunakan massa (pada trimester pertama) (Syarifudin AB, dkk, 2002:73).

 

2.6 KEBIJAKAN PELAYANAN ANTENATAL CARE

  1. Kebijakan Program

Walaupun pelayanan antenatal care selengkapnya mencakup banyak hal yang meliputi anamnese, pemeriksaan fisik (umum dan kebidanan), pemeriksaan laboratorium atas indikasi serta intervensi dasar dan khusus (sesuai resiko yang ada), namun dalam penerapan operasional dikenakan standar minimal 7 T, yang terdiri dari :

  • § Timbang BB dan ukur tinggi badan
  • § Ukur tekanan darah
  • § Pemberian imunisasi tetanus toxoid (TT) lengkap
  • § Pemberian tablet zat besi minimum 90 tablet selama kehamilan
  • § Ukur tinggi fundus uteri
  • § Tes terhadap penyakit menular seksual
  • § Tes wicara dalam rangka mempersiapkan rujukan
  1. Kebijakan Teknis

Setiap kehamilan dapat berkembang menjadi masalah atau komplikasi setiap saat. Itu sebabnya mengapa ibu hamil memerlukan pemantauan selama kehamilannya.

Penatalaksanaan ibu hamil secara keseluruhan meliputi komponen-komponen sebagai berikut :

1)      Mengupayakan kehamilan sehat

2)      Melakukan deteksi dini komplikasi, melakukan penatalaksanaan serta rujukan bila diperlukan

3)      Persiapan persalinan yang bersih dan aman (Saefudin AB, dkk, 2002:73).

Namun, cakupan pelayanan antenatal care sesuai kebijakan program pelayanan asuhan antenatal harus sesuai standar yaitu “14 T”, meliputi :

  1. Timbang Berat Badan (T1)
  2. Ukur Tekanan Darah (T2)
  3. Ukur Tinggi Fundus Uteri (T3)
  4. Pemberian tablet Fe sebanyak 90 tablet selama kehamilan (T4)
  5. Pemberian imunisasi TT (T5)
  6. Pemeriksaan Hb (T6)
  7. Pemeriksaan VDRL (T7)
  8. Perawatan payudara, senam payudara dan pijat tekan payudara (T8)
  9. Pemeliharaan tingkat kebugaran / senam ibu hamil (T9)
  10. Temu wicara dalam rangka persiapan rujukan (T10)
  11. Pemeriksaan protein urine atas indikasi (T11)
  12. Pemeriksaan reduksi urine atas indikasi (T12)
  13. Pemberian terapi kapsul yodium untuk daerah endemis gondok (T13)
  14. Pemberian terapi anti malaria untuk daerah endemis malaria (T14)

Apabila suatu daerah tidak bisa melaksanakan 14T sesuai kebijakan dapat dilakukan standar minimal pelayanan ANC yaitu 7 T (Prawiroharjo, 2002: 88).

 

2.7 PEMBERIAN IMUNISASI TETANUS TOXOID LENGKAP, PEMBERIAN TABLET FE, DAN TEMU WICARA

2.7.1   PEMBERIAN IMUNISASI (TETANUS TOKSOID) TT LENGKAP

Imunisasi TT diberikan 2x yaitu pada kunjungan pertama dengan interval 4 minggu, tanpa pandang usia kehamilan. Bila pernah menerima TT 2x pada kehamilan terdahulu, maka hanya diberi TT 1x. Imunisasi TT bertujuan melindungi bayi dan ibu terhadap penyakit tetanus (Syahlan, 1996). Vaksin TT diberikan sedini mungkin dengan dosis pemberian 0,5 cc I.M (intra muskulair) di lengan atas/paha/bokong. Khusus untuk calon pengantin diberikan imunisasi TT 2x dengan interval 4 minggu. Usahakan TT1 dan TT2 diberikan sebelum menikah (Depkes, 1992).

Perlindungan dari imunisasi tt dapat dilihat pada tabel berikut ini:

Antigen

Interval (Selama waktu minimal)

Lama Perlindungan

Perlindungan (%)

TT1

 

Pada kunjungan antenatal pertama

TT2

4 minggu setelah TT1

3 tahun

80

TT3

6 minggu setelah TT2

5 tahun

95

TT4

1 tahun setelah TT3

10 tahun

99

TT5

1 tahun setelah TT4

25 tahun seumur hidup

99

 

Dari tabel di atas, dapat dilihat bahwa apabila dalam waktu 3 tahun WUS tersebut melahirkan, maka bayi yang dilahirkan akan terlindung dari TN (Tetanus Neonatorum).

 

2.7.2   PEMBERIAN TABLET ZAT BESI (FE)

Tujuan pemberian tablet Fe adalah untuk memenuhi kebutuhan Fe pada ibu hamil dan nifas karena pada masa kehamilan dan nifas kebutuhan meningkat. Dimulai dengan pemberian satu tablet sehari dengan segera mungkin, setelah rasa mual hilang, tiap tablet mengandung Fe So4 320 mg (zat besi 60 mg) dan asam folat 500 mg, minimal masing-masing 90 tablet sebaiknya tidak diminum bersamasama teh/kopi karena akan mengganggu penyerapan.Selain itu juga perlu Pemberian Tablet multivitamin yang mengandung mineral, tujuan pemberian tablet multivitamin yang mengandung mineral adalah untuk memenuhi kebutuhan akan berbagai vitamin dan mineral bagi ibu hamil dan janin/bayi selama hamil dan nifas. Cara pemberian 1 tablet/hari, selama masa kehamilan dan nifas. (Mochtar R., 1998:73)

WHO menganjurkan pemberian ferro sulfat 320 mg (setara dengan 60 mg zat besi) 2 kali sehari bagi semua ibu hamil. Jika Hb 9 gr% atau kurang dari pada salah satu kunjungan, tingkatkan tablet zat besi menjadi 3 kali 1 tablet/hari sampai akhir masa kehamilannya. Kebijakan program KIA di Indonesia saat ini menetapkan bahwa pemberian tablet Fe (320 mg Fe sulfat dan 0,5 mg asam folat) untuk semua ibu hamil sebanyak 1 kali 1 tablet selama 90 hari. Jumlah tersebut mencukupi kebutuhan tambahan zat besi selama kehamilan, yaitu 100 mg.

Bila ditemukan anemia pada ibu hamil, diberikan tablet zat besi 2-3 kali 1 tablet/hari selama 2-3 bulan; dan dilakukan pemantauan Hb (bila masih anemia), pemeriksa sampel tinja untuk melihat kemungkinan adanya cacing tambang dan parasit lainnya . Periksa darah tepi terhadap parasit malaria di daerah endemic. (Depkes RI, 1999).

Pada setiap kali kunjungan mintalah ibu untuk meminum tablet Fe yang cukup, hindari meminum teh/kopi 1 jam sebelum/sesudah makan karena dapat mengganggu penyerapan zat besi. Tablet Fe lebih dapat diserap jika disertai dengan mengkonsumsi vitamin C yang cukup. Jika vitamin C dikonsumsi ibu dalam makanannya tidak tercukupi berikan tablet vitamin C 250 mg per hari (Depkes RI, 1999).

 

2.7.3   TEMU WICARA PADA PERSIAPAN RUJUKAN

Pada saat kunjungan antenatal, petugas kesehatan harus menjelaskan pada klien dan suami tentang kondisi ibu dan janinnya, dan jika penyulit terjadi beritahu ibu suami dan keluarga serta ajak ibu, suami dan keluarga untuk membahas rujukan dan rencana rujukan. Rujukan tepat waktu merupakan unggulan asuhan sayang ibu dalam mendukung keselamatan ibu.

Persiapan-persiapan dan informasi yang dapat dimasukkan dalam rencana rujukan adalah :

  1. Siapa yang akan menemani ibu atau bayi baru lahir.
  2. Tempat rujukan mana yang lebih disukai ibu dan keluarga (jika ada lebih dari satu kemungkinan tempat rujukan, pilih tempat rujukan yang paling sesuai berdasarkan jenis asuhan yang diperlukan).
  3. Sarana transportasi yang akan digunakan dan siapa yang akan mendampingi mengendarainya. Transportasi harus tersedia segera, baik siang maupun malam.
  4. Siapa orang yang ditunjuk menjadi donor darah, jika tranfusi darah diperlukan.
  5. Uang yang disisihkan untuk asuhan medis, transportasi, obat-obatan dan bahan-bahan.
  6. Siapa yang akan tinggal dan menemani anak-anak yang lain pada saat ibu tidak di rumah (APN, 2003).

Beberapa hal penting dalam mempersiapkan rujukan adalah konsep “BAKSOKU” yaitu :

  1. B : Bidan, pendamping ibu yang kompeten dan memiliki kemampuan untuk menatalaksana kegawatdaruratan obstetri dan bayi baru lahir untuk dibawa ke fasilitas rujukan.
  2. A : Alat, perlengkapan dan bahan diperlukan bila ibu melahirkan sedang dalam perjalanan.
  3. K : Keluarga, suami atau anggota keluarga yang lain harus menemani ibu ke tempat rujukan.
  4. S : Surat, surat mengenai alasan mengapa ibu dirujuk dan kondisi ibu saat ini.
  5. O : Obat, obat-obatan esensial mungkin diperlukan selama perjalanan ke tempat rujukan.
  6. K : Kendaraan, persiapan kendaraan yang memungkinkan untuk merujuk dalam kondisi yang cukup aman.
  7. U : Uang, ingatkan keluarga agar membawa uang dalam jumlah yang cukup untuk membeli obat-obatan yang diperlukan dan bahan-bahan kesehatan lain yang diperlukan selama ibu dan bayi tinggal di fasilitas rujukan (APN, 2003)

Dalam temu wicara pada persiapan rujukan juga penting untuk mendiskusikan rencana rujukan dengan ibu dan keluarganya sedini mungkin pada awal pemeriksaan antenatal atau pada saat ditemukannya kesulitan, agar persiapan-persiapan dapat dilakukan dengan cepat sehingga ibu dan bayi mendapat pertolongan terbaik dengan cepat dan tepat.

   BAB III

PENUTUP

 

3.1 KESIMPULAN

  • Ø Antenatal Care (ANC) adalah pemeriksaan kehamilan yang diberikan oleh bidan atau dokter kepada ibu selama masa kehamilan untuk mengoptimalisasikan kesehatan mental dan fisik ibu hamil, sehingga mampu menghadapi persalinan, nifas, persiapan memberikan ASI, dan kembalinya kesehatan reproduksi secara wajar.
  • Ø Antenatal care bertujuan untuk menyiapkan seoptimal mungkin fisik, mental ibu dan janin selama kehamilan, persalinan dan nifas sehingga didapatkan ibu dan anak yang sehat.
  • Ø Manfaat dari pelayanan antenatal adalah ibu melahirkan selamat dan bayi sehat serta siap mengasuh bayinya sesuai dengan pendidikan kesehatan yang benar.
  • Ø Kunjungan Antenatal Care sebaiknya dilakukan 4 kali selama kehamilan yaitu trimester pertama 1 kali, trimester kedua 1 kali dan trimester ketiga 2 kali.
  • Ø Cakupan pelayanan antenatal care dikenakan standar minimal 7 T, yang terdiri dari : Timbang BB dan ukur tinggi badan, Ukur tekanan darah, Pemberian imunisasi tetanus toxoid (TT) lengkap, Pemberian tablet zat besi minimum 90 tablet selama kehamilan, Ukur tinggi fundus uteri, Tes terhadap penyakit menular seksual, Tes wicara dalam rangka mempersiapkan rujukan.
  • Ø Pemberian Imunisasi TT lengkap yakni sebanyak lima kali untuk mendapatkan perlindungan seumur hidup dari penyakit tetanus, Pemberian tablet Fe minimal 90 tablet selama kehamilan, dan temu wicara oleh  petugas kesehatan dengan ibu hamil beserta suami atau keluarganya tentang kondisi ibu dan janinnya serta rujukan dan rencana rujukan jika terjadi penyulit dalam proses persalinan nanti.

 

 

 

3.2 SARAN

  • Para ibu hamil hendaknya rutin memeriksakan kehamilannya minimal empat kali selama masa kehamilan.
  • Petugas kesehatan sebaiknya memperhatikan kondisi ibu-ibu hamil terutama di daerah terpencil dimana tingkat kematian ibu dan bayi masih tinggi dan  petugas kesehatan sebaiknya meningkatkan kegiatan penyuluhan yang berkaitan dengan kehamilan agar pengetahuan ibu hamil lebih baik.
  • Informasi mengenai pelayanan antenatal (ANC) harus diketahui oleh seluruh lapisan masyarakat sehingga sebaiknya promosi ANC dilakukan di beberapa media iklan termasuk iklan dari pemerintah di media televisi

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Depkes RI, 1997, Pedoman Pelayanan Antenatal Di Tingkat Pelayanan Dasar, Jakarta.

Francichandra,2010.AntenatalCare.http://francichandra.wordpress.com/2010/04/07/antenatal-care/. Diakses tanggal 22 Oktober 2011

Ibrahim Christina. S, 1993, Perawatan Kebidanan, Buana Karya Aksara, Jakarta.

Listiyaningsih,MonecaDiah.2010.AntenatalCare.http://midwiferyeducator.wordpress.com/2010/01/08/antenatal-care/. Diakses tanggal 22 Oktober 2011

Nurudin, Jauhari. 2010. Konsep Dasar Antenatal Care. http://allaboutkebidanan. blogspot.com/2010/10/konsep-dasar-antenatal-care.html. Diakses tanggal 22 Oktober 2011

Rosfanty. 2010. Pentingnya Antenatal Care (ANC). http://repository.usu.ac.id/ bitstream/ 123456789/6784/1/09E00138.pdf. Diakses tanggal 22 Oktober 2011

Rosfanty.2010.Asuhan Antenatal.http://www.dokterrosfanty.blogspot.com. Diakses tanggal 22 Oktober 2011

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s