Epidemiologi Merokok

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG

Banyak pengetahuan tentang bahaya merokok dan kerugian yang ditimbulkan oleh tingkah laku merokok, namun tingkah laku ini tetap saja dilakukan. Lebih-lebih yang mencolok adalah merokok di tempat-tempat yang jelas terpampang himbauan untuk tidak merokok. Meski semua orang tahu akan bahaya merokok, perilaku merokok tidak pernah surut dan tampaknya merupakan perilaku yang masih ditolerir oleh masyarakat.

Dalam asap rokok terdapat 4000 zat kimia yang berbahaya untuk kesehatan, dua diantaranya adalah Karbon Monoksida (CO), Nikotin yang bersifat adiktif dan Tar yang bersifat karsinogenik (Asril Bahar, harian umum republika, selasa 26 maret 2002:19). Racun dan karsinogen yang timbul akibat pembakaran tembakau dapat memicu terjadinya kanker. Pada awalnya rokok mengandung 8-20 mg Nikotin dan setelah dibakar Nikotin yang masuk ke dalam sirkulasi darah hanya 25 %. Walau demikan jumlah kecil tersebut memiliki waktu hanya 15 detik untuk sampai ke otak manusia.

Rokok adalah salah satu produk konsumen terlaris di dunia. Rokok memiliki sangat banyak pembeli yang loyal serta memiliki arus perdagangan yang berkembang pesat. Perusahaan–perusahaan yang memproduksinya membanggakan laba yang fantastis, kendali politik dan prestise. Tembakau atau rokok termasuk zat adiktif karena menimbulkan adiksi (ketagihan) dan dependensi (ketergantungan). Oleh karena itu tembakau ( rokok) termasuk dalam golongan NAPZA.

 1.2 RUMUSAN MASALAH

            Rumusan masalah akan memberikan gambaran mengenai masalah yang akan dibahas pada bab selanjutnya yaitu pengertian rokok, kecenderungan masalah rokok, merokok sebagai faktor resiko, penelitian epidemiologi pengaruh rokok,          identifikasi keberadaan merokok ,variabel merokok, berhenti Merokok       

      BAB II

PEMBAHASAN

 

2.1 PENGERTIAN DASAR

       Merokok merupakan salah satu kebiasaan yang lazim ditemui dalam kehidupan sehari hari. Life style ini menarik sebagai suatu masalah kesehatan, minimal dianggap sebagai faktor resiko dari berbagai macam penyakit. Rokok merupakan salah satu produk industri dan komoditi internasional yang mengandung sekitar 4000 bahan kimiawi. Unsur-unsur yang penting antara lain tar, nikotin, benzopyrin, metilkloride, aseton. Ammonia dan karbon monoksida. Tar, nikotin, karbon monoksida merupakan 3 zat penting yang paling berbahaya bagi tubuh.

 

2.2 KECENDERUNGAN MASALAH ROKOK         
a. Umur usia merokok semakin muda.

b. Semakin banyak wanita yang menggantikan pria sebagai perokok aktif.  

c. Kecenderungan peningkatan merokok dinegara berkembang. Alasannya karena banyak Negara berkembang yang menjadi tempat pelemparan komoditi tembakau.

d. Makin meningkatnya masalah passive smoking

.          

2.3 MEROKOK SEBAGAI FAKTOR RESIKO       
Berbagai penyakit dapat ditemui pada perokok, seperti;                       

        a)  Batuk menahun.        

        b) Penyakit paru seperti penyakit paru obstruktif menahun, bronchitis dan  empisema.

        c)  Ulkus peptikum.         

        d)             Infertility.

        e)  Gangguan kehamilan, bisa berupa keguguran, kehamilan diluar rahim.        

        f)  Artheroskolrosis sampai penyakit jantung koroner.   

        g)             Kanker, seperti kanker mulut, kanker paru, kanker system pernapasan lainnya. Juga kanker kandung kemih, penkreas atau ginjal.   

 

2.4     PENELITIAN EPIDEMIOLOGI PENGARUH ROKOK   

        Ada bebaerapa penelitian yang menyangkut pengaruh rokok dengan terjadinya penyakit;

a)      Dr. Richard Doll and Dr. A.B Hill (inggris, 1951 – 1956)   

Menunjukkan bahwa pengaruh rokok terhadap kanker paru dan tingginya kematian diantara dokter di inggris.          

        b)   Framingham Study   
Pengaruh rokok terhadap penyakit jantung koroner.           

        c)   Surgeon general Departemen Kesehatan AS           
Melakukan penelitian bertahun-tahun sampai pada kesimpulan tentang berbagai penyakit yang berkaitan erat dengan rokok.

Kian hari kian mudah menjumpai perokok seusia anak baru gede. Robert Kim Farley rupanya betul. Kata perwakilan Organisasi Kesehatan Dunia untuk Indonesia ini: tembakau kini telah memingit anak-anak dan remaja di dalam candu. Ia mengacu kepada penelitian terakhir yang melingkap kebanyakan perokok sekarang memulai kebiasaan mengisap asap Nicotiana tabacum selagi remaja kencur.

Telusuran di dalam negeri setali tiga uang. Survei Sosial Ekonomi Nasional tahun 1995 menemukan 23% penduduk Indonesia berumur sepuluh tahun ke atas terjerat rokok. Terhadap tuaian survei itu, pemerintah tak berpangku tangan. Setiap bungkus rokok dicantumi dengan peringatan bikinan Departemen Kesehatan. Tayangan televisi disisipi telop berupa maklumat dari departemen itu juga meski durasinya terlalu pendek untuk bisa dicerna. Bagaimana isi peringatan itu? Pada kemasan rokok keretek tersua kalimat sederhana dan ringkas: Merokok dapat merusak kesehatan. Sedangkan di bungkus rokok putih, tegurannya rada panjang sekaligus lugas. Ungkapan merusak kesehatan diganti dengan menyebabkan kanker, serangan jantung, impotensi, dan gangguan kehamilan dan janin.

Karena populasi pencandu terus menanjak, peringatan ini tampaknya lebih dari sekadar label. Tinggal buat kita melihat sejauh mana ia berpotensi menyadarkan orang, terutama kawula muda, akan bahaya merokok. Bisa dipastikan wanti-wanti pemerintah itu merujuk kepada stating of fact bahwa merokok menyebabkan kanker, serangan jantung, impotensi, serta gangguan kehamilan dan janin. Jadi, seperti yang sudah diperlihatkan WHO dan Departemen Kesehatan, ada temuan epidemiologi yang memperlihatkan korelasi antara merokok dengan-katakanlah-kanker paru-paru atau serangan jantung.

Angka statistiknya: rata-rata 11.000 orang mati tiap hari yang ditengarai berbiangkeladikan racun kandungan asap rokok. Diprakirakan nanti, dalam kurun tahun 2020 sampai 2030, rata-rata 27.000 orang mati tiap hari lantaran racun serupa. Yang kemudian bikin soal adalah tambahan kata dapat pada stating of fact tadi sehingga wanti-wanti itu menjadi merokok dapat menyebabkan kanker, serangan jantung, impotensi, dan gangguan kehamilan dan janin. Yang terakhir ini justru yang sampai di ruang publik melalui bungkus rokok dan telop di televisi tadi.

Padanan kata dapat dalam konteks ini, menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia edisi ketiga (2001), ialah ’mungkin’ yang bermakna ’belum tentu’. Pantarannya dalam bahasa Inggris adalah may yang berarti ’to indicate that it is possible for something to happen’ (Collins Cobuild Dictionary). Kalau begitu, kalimat merokok dapat menyebabkan kanker bisa diartikan sebagai merokok belum tentu menyebabkan kanker.

Secara kasatmata terlihat bahwa pernyataan fakta yang mengacu kepada temuan epidemiologi tadi justru kontradiksi dengan pernyataan fakta keluaran pemerintah yang sebetulnya berlandas pada yang disebut pertama. Apakah uraian ini akan memangkung Departemen Kesehatan untuk mengubah kalimat peringatan pada bungkus rokok yang akan dilinting di kemudian hari? Tanpa dukungan fakta, termasuk kejujuran, suatu ungkapan bisa menjadi rangkaian kata tanpa makna atau sebuah pseudo-statement, pernyataan lancung. Pengelabuan fakta melalui pernyataan lancung terkadang sulit dihindari, tapi tidak boleh dibudayakan. 

Data akibat merokok sigaret sangat menakutkan dan suram. Diperkirakan bahwa angka kematian berlebihan tahunan di Amerika Serikat yang disebabkan oleh merokok sigaret adalah 350.000, lebih daripada kehilangan total jiwa orang Amerika dalam perang dunia I, Korea dan Vietnam. Dalam tahun 1979, laporan US Surgeon General menyatakan : “merokok sigaret merupakan faktor lingkungan tunggal yang paling penting dalam meningkatkan kematian dini di Amerika Serikat”. Royal College of Physician, dan banyak penelitian telah mendukung kesimpulan itu. Angka kesakitan, dan kematian yang berhubungan dengan merokok sigaret hampir berkorelasi linier dengan jumlah batang rokok yang diisap setiap hari dan tahun pemakaian.

Tahun pemakaian biasanya dinyatakan dengan istilah “tahun-bungkusan” (yaitu satu bungkus sehari selama 20 tahun sesuai dengan 20 tahun bungkusan). Seorang ahli statistik mengukur bahwa pada perokok selama 5 – 8 tahun, setiap batang sigaret mengurangi harapan hidup 5,5 menit. Terdapat beberapa bukti bahwa mode mutakhir pemakaian filter, dan sigaret “rendah nikotin” telah mengurangi risiko itu secara nyata, tetapi masih membutuhkan waktu lebih lama untuk menilai kegunaan cara tersebut. Cerutu dan merokok dengan pipa juga menghadapi risiko, tetapi jauh lebih rendah daripada merokok sigaret. Baru-baru ini sejumlah besar keprihatinan tentang efek samping pada ‘perokok pasif’. Kelainan ringan fungsi ventilasi telah ditemukan, dan yang lebih buruk lagi, sudah dibuat pernyataan tentang peningkatan risiko terkena kanker, walaupun penelitian lebih lanjut masih diperlukan.

Penyakit spesifik yang berkaitan dengan merokok tidak akan dibicarakan. Beberapa konsep tentang frekuensi kelainan ini dihasilkan dari data berikut. Bukti yang mengaitkan merokok sigaret dengan kanker paru hampir dapat dipastikan, dan kanker paru merupakan penyebab nomor satu kematian karena kanker baik pada pria, maupun wanita di AS dalam tahun 1985. Perokok pria kira-kira 10 kali lebih mudah mati karena karsinoma bronkogenik daripada bukan perokok. Perokok wanita pada masa lalu juga telah mengalami risiko separuh dari perokok pria, tetapi perubahan perilaku telah mengurangi perbedaan ini. Risiko akibat merokok 2 bungkus sigaret sehari dalam 3 kali lebih tinggi daripada mereka yang merokok setengah bungkus sehari.

Data yang berkaitan dengan kematian karena kardiovaskular sama menyedihkan. Merokok sigaret merupakan faktor risiko utama pada perkembangan penyakit aterosklerosis, dan penyebab penyakit jantung koroner, terutama infark jantung, yang merupakan penyebab nomor satu kematian disebagian besar negara industri. Sebagai tambahan, anak yang belum dilahirkan juga tidak terbebas dari bahaya merokok pada kehamilan, telah juga mengalami penurunan berat badan, dan peningkatan angka kematian prenatal.

Pada tahun-tahun terakhir ini, usaha untuk menghindari bencana ini telah menyebabkan penggunaan rokok tak berasap seperti penghirupan rokok lewat hidung, mengunyah tembakau, atau segumpal tembakau disusupkan kedalam lipat pipi bagian dalam. Dengan menyesal dinyatakan bahwa praktek seperti ini telah meningkatkan insidensi karsinoma sel skuamosa pada gusi dan mukosa. Perokok dapat ”memperoleh semangat” karena dalam waktu setahun berhenti merokok angka insidensi serangan jantung yang meningkat pada pria dibawah 55 tahun mulai merosot, dan dalam dua tahun dapat mencapai batas dasar risiko bukan perokok.

Sebagai tambahan, penurunan kecil jumlah kematian akibat karsinoma bronkogenik telah dicatat pada pria, tetapi tidak pada wanita. Apakah cukup bisa dipercaya bahwa usaha untuk mengurai penggunaan rokok telah berhasil mengurangi kematian pria akibat kanker paru, yang merupakan awal dari kecenderungan yang akan terjadi pada wanita juga? Kesimpulannya jelas, bahwa sigaret merupakan penyebab kematian sejati. Apabila seorang menghisap asap rokok, maka bermacam-macam senyawa tertimbun di dalam paru-paru. Sebagian dari senyawa-senyawa tidak berbahaya, dapat terlarut dalam aliran darah dan dibawa keginjal untuk dikeluarkan dari tubuh. Tetapi ada senyawa yang tidak dapat larut dalam darah , sehingga tertimbun di dalam paru-paru, yang bila dibiarkan saja akan timbul keracunan.

Untuk menjaga diri, badan membuat enzim yang mengubah senyawa itu menjadi senyawa yang dapat dikeluarkan dari tubuh. Salah satu senyawa berbahaya ialah Hidrokarbon Polisiklik. Salah satu enzim yang dimaksud diatas adalah AHH (aril hidrokarbon hidroksilase). Hidrokarbon polisiklik merupakan zar prokarsinogen, yaitu suatu zat yang tidak dapat menimbulkan kanker, tetapi bila bertemu dengan agen lain dapat bersifat karsinogen. Seorang ahli paru-paru mengemukakan bahwa asap rokok akan merusak epitel saluran nafas, menyebabkan rusaknya bulu getar epitel. Sekresi yang berlebihan akan terjadi, sehingga jalan nafas akan tersumbat oleh secret. Setelah diketahui bahayanya merokok bagi kesehatan, maka para pemilik industri rokok berusaha mengurangi banyaknya nikotin dan tar yang dikandung oleh asap rokok, yaitu dengan memasang sebuah filter pada pangkal batang rokok.

Bahan kimia Kalau kita sadar, satu batang rokok yang hanya seukuran pensil sepuluh sentimeter itu, ternyata ibarat sebuah pabrik berjalan yang menghasilkan bahan kimia berbahaya. Satu batang rokok yang dibakar akan membuat Nikotin ini menghalangi kontraksi rasa lapar. Itu sebabnya seseorang bisa merasakan tidak lapar karena merokok. Ammonia, merupakan gas yang tidak berwarna yang terdiri dari nitrogen dan hidrogen. Zat ini sangat tajam baunya dan sangat merangsang. Begitu kerasnya racun yang ada pada ammonia sehingga kalau disuntikkan (baca: masuk) sedikit pun kepada peredaraan darah akan mengakibatkan seseorang pingsan atau koma. Formic acid, sejenis cairan tidak berwarna yang bergerak bebas dan dapat membuat lepuh. Cairan ini sangat tajam dan menusuk baunya. Zat ini dapat menyebabkan seseorang seperti merasa digigit semut. Hydrogen cyanide, sejenis gas yang tidak berwarna, tidak berbau dan tidak memiliki rasa. Zat ini merupakan zat yang paling ringan, mudah terbakar dan sangat efisien untuk menghalangi pernapasan.

Cyanide adalah salah satu zat yang mengandung racun yang sangat berbahaya. Sedikit saja cyanide dimasukkan langsung ke dalam tubuh dapat mengakibatkan kematian. Nitrous oxide, sejenis gas yang tidak berwarna, dan bila terisap dapat menyebabkan hilangnya pertimbangan dan mengakibatkan rasa sakit. Nitrous oxide ini adalah jenis zat yang pada mulanya dapat digunakan sebagai pembius waktu melakukan operasi oleh para dokter. Formaldehyde, sejenis gas tidak berwarna dengan bau yang tajam. Gas ini tergolong sebagai pengawet dan pembasmi hama. Gas ini juga sangat beracun keras terhadap semua organisme-organisme hidup. Phenol, merupakan campuran dari kristal yang dihasilkan dari distilasi beberapa zat organik seperti kayu dan arang, serta diperoleh dari tar arang.

Zat ini beracun dan membahayakan, karena phenol ini terikat ke protein dan menghalangi aktivitas enzim. Acetol, adalah hasil pemanasan aldehyde (sejenis zat yang tidak berwarna yang bebas bergerak) dan mudah menguap dengan alkohol. Hydrogen sulfide, sejenis gas yang beracun yang gampang terbakar dengan bau yang keras. Zat ini menghalangi oxidasi enxym (zat besi yang berisi pigmen). Pyridine, sejenis cairan tidak berwarna dengan bau yang tajam. Zat ini dapat digunakan mengubah sifat alkohol sebagai pelarut dan pembunuh hama. Methyl chloride, adalah campuran dari zat-zat bervalensi satu antara hidrogen dan karbon merupakan unsurnya yang terutama. Zat ini adalah merupakan compound organis yang dapat beracun. Methanol, sejenis cairan ringan yang gampang menguap dan mudah terbakar. Meminum atau mengisap methanol dapat mengakibatkan kebutaan dan bahkan kematian. Dan tar, sejenis cairan kental berwarna cokelat tua atau hitam. Tar terdapat dalam rokok yang terdiri dari ratusan bahan kimia yang menyebabkan kanker pada hewan. Bilamana zat tersebut diisap waktu merokok akan mengakibatkan kanker paru-paru.

Melihat dari kandungan bahan-bahan kimia yang terdapat dalam rokok tersebut, kita tidak akan menyangsikan lagi kalau rokok itu merupakan sumber bencana dan perusak tubuh bagi yang mengisapnya. Salah satu proses yang memang belum berdampak pada penampilan fisik perokok adalah gangguan pada sistem sirkulasi darah, yang akhirnya memicu penyakit jantung. Kami menggolongkan mereka sebagai ‘perokok sehat,’ kata Johannes Czenin (baca: SHAR’niin), Rektor kepala pada Departemen Molekular dan Farmakologi UCLA (Arda Dinata, 2003). Lebih lanjut dikemukakan, walau belum ada indikasi jantung koroner, toh ada abnormalitas yang kami sebut vosomotion, atau perubahan pada aliran darah. Sementara itu, berdasarkan laporan Badan Lingkungan Hidup Amerika (EPA – Environmental Protection Agency) mencatat tidak kurang dari 300 ribu anak-anak berusia 1 hingga 1,5 tahun menderita bronchitis dan pneumonia, karena turut mengisap asap rokok yang diembuskan orang di sekitarnya terutama ayah-ibunya.

Selain anak-anak, kecenderungan peningkatan jumlah korban asap rokok juga terlihat pada kaum wanita. Nasib kaum ibu bersuamikan perokok agaknya tak berbeda jauh dengan anak-anak yang memiliki keluarga perokok. Penelitian yang dilakukan EPA menghasilkan kesimpulan bahwa dari 30 wanita, 24 di antaranya berisiko tinggi terserang kanker paru-paru bila suaminya perokok. Menurut para peneliti di Fakultas Kedokteran Universitas New York, wanita yang merokok lebih dari 10 batang per hari memiliki peluang memasuki monopause dini 40 persen lebih besar ketimbang para wanita yang tidak merokok. Dalam studi itu, para peneliti mengamati 4.694 wanita selama lebih dari lima tahun. Ternyata, wanita perokok rata-rata memasuki masa monopause lebih cepat 9 bulan ketimbang wanita yang tidak merokok.

Nikotin pada asap sigaret bersifat agak asam dan tidak diabsorbsi dengan baik di mulut, berlainan dengan asap pipa dan cerutu yang lebih alkalis (pH 8.5) dan mungkin lebih baik absorpsinya. Tetapi, kadar nikotin dalam plasma dari mereka yang tidak menginhalasi (cerutu) lebih rendah. Efeknya terhadap susunan saraf pusat (SSP), nikotin yang diabsorpsi dapat menimbulkan tremor tangan dan kenaikan kadar pelbagai hormon dan neurohormon dopamin di dalam plasma. Berdasarkan rangsangan terhadap “chemoreseptor trigger zone’ dari sumsum tulang (medulla oblongata) dan stimulasinya dari refleks vagal, nikotin menyebabkan mual dan muntah. Di lain pihak nikotin meningkatkan daya ingat, perhatian, dan kewaspadaan, mengurangi sifat mudah tersinggung dan agresi, serta menurunkan berat badan akibat penekanan nafsu makan dan meningkatnya pengeluaran energi. Toksisitas kronis merokok dikaitkan dengan pelbagai penyakit serius, dari gangguan arteri koroner sammpai kanker paru. Kecenderungan mendapatkan penyakit-penyakit ini meningkat dengan derajat eksposurenya, yang di ukur dari jumlah sigaret yang dihisap sehari atau diekspresikan dalam; packs years. Perbandingan mortalitas keseluruhan dari perokok pria terhadap non perokok adalah 1.7 :1 ratio ini menjadi 2.0 bagi mereka yang mengisap 2 pak perhari dan lebih tinggi lagi pada mereka yang menginhalasi dibandingkan dengan yang non inhalasi.

Mortalitas juga meningkat bila menghisap cerutu, tetapi tidak demikian tinggi dibandingkan yang menghisap cigaret. Perokok wanita yang menghisap 1 pak sehari mempunyai risiko mendapatkan penyakit jantung koroner fatal yang lima kali lebih tinggi. Interaksi dengan obat-obat. Perokok memetabolisasi pelbagai jenis obat lebih cepat dari pada non perokok, yang disebabkan oleh induksi enzim-enzim di mukosa usus atau hati oleh komponen dalam asap tembakau. Dengan demikian, efek obat-obat dimaksud berkurang, misalnya teofilin, iminprami, dan kafein. Pada prokok membutuhkan dosis yang lebih tinggi dari analgetika (opioida), angksiolitika (oksazepam), dan obat-obat antiangina (nifedipin, atenolol, propanolol, dan lain-lain) (Tjay, TH, dkk., 2003). Nikotin sebagai derivat-piridin terdapat sebagai alkaloid pada daun tembakau (nicotiana tabacum). Nikotin diikat pada reseptor -N di SSP dan SS perifer dan menghasilkan efek terhadap otak, jantung, pembuluh, saraf, lambung-usus, dan otot kerangka. Pada dosis rendah berdaya stimulasi, pada dosis tinggi bekerja inhibisi (Tjay, dkk, 2003; Sartono,2002). Merokok selama kehamilan berpengaruh terhadap bayi berat lahir rendah, angka SIDS (sudden infant death syndrome ), masalah perilaku, dan kesulitan belajar. Diyakini bahwa merokok mengurangi aliran oksigen dan nutrisi ke janin. Hal tersebut juga meningkatkan risiko keguguran bagi wanita hamil yang merokok. Bayi dan anak yang hidup disekitar perokok lebih mudah terkena batuk, infeksi telinga dan flu. Anak yang memiliki orang tua perokok lebih cepat tumbuh menjadi seorang perokok juga. Kerusakan gamet dan embrio akibat rokok oleh Zenzez, M.T. (2000), dijelaskan bahwa, seorang ayah yang merokok akan mengalami kualitas sperma yang rendah dan konsentrasi sperma yang rendah. Adapun komponen kariogenik rokok yang utama adakah cadmiun, cotinin dan benzo a pyrene, hal tersebut dapat menyebabkan kerusakan DNA atau chromosom. Transmisi unsur kariogenik dapat menyebabkan 1). Keagagalan implantasi, 2). Kelahiran prematur dan 3). Gangguan perkembangan postnatal. Sejumlah studi telah menggambarkan bahwa ibu hamil yang merokok selama kehamilan berhubungan dengan menurunnya berat bayi yang dilahirkan (gambar 3). Ibu yang merokok didentifikasi sebagai faktor modifikasi risiko terbesar untuk BBLR. Meskipun tidak semua wanita yang merokok melahirkan bayi BBLR. Untuk alasan ini variasi pemahaman masih sangat luas, tetapi mungkin berhubungan dengan kerentanan genetik ibu (Wang, 2002). Sebuah review tentang efek nikotin terhadap kehamilan, menyebutkan efek pharmakodinamika nikotin menyebabkan fetal hypoxemia melalui reduksi darah dari plasenta (Oncken C.A.2000)

Dari penelitian yang dilakukan oleh Prof. Dr. dr. H. Dadang Hawari menunjukkan bahwa tembakau/ rokok adalah :

  • Pintu pertama narkotika.
  • Rokok merupakan pembunuh No.3 setelah jantung koroner & kanker .
  • 1 batang rokok sama dengan umur memendek 12 menit.
  • 10.000 orang/hari mati karena merokok (dunia).
  • 57.000 orang/ tahun mati karena merokok (Indonesia).
  • Kenaikan konsumsi rokok Indonesia tertinggi di dunia (44%).

Selanjutnya dikemukakan bahwa bagi mereka yang tidak merokok pun tetapi terkena asap rokok dari mereka yang merokok (perokok pasif) juga akan mengalami gangguan kesehatan dengan resiko yang sama. Oleh karena itu tembakau         (rokok) disebut pula sebagai racun menular. Ada beberapa kasus yang dapat kita lihat akan bahaya rokok antara lain:

  • Seorang penyair saint toile yang berasal dari Negara latin meninggal dunia pada tahun 1667, setelah teman-temannya menambahkan tembakau pada gelas anggurnya.
  • Seorang ibu mengepulkan asap ke kepala tiga anaknya dengan tujuan untuk mengobati ketombe mereka, namun hasil yang didapatkannya, ketiganya meninggal akibat usahanya tersebut.
  • Seorang pencuri mati mengenaskan setelah ia berusaha melarikan tembakau dengan cara melekatkan ke seluruh tubuhnya.
  • Para peneliti menggunakan kelinci kecil sebagai uji coba dan menyuntiknya dengan zat Nikotin. Kelinci tesebut terhuyung dan kemudian mati seketika.
  • Dua anak kecil bertaruh siapa yang paling banyak bisa merokok, dan salah satu dari mereka meninggal sebelum ia mencapai hisapan batang rokoknya yang ke-17 dan seorang lainnya meninggal sebelum sempat menyelesaikan rokoknya yang ke-18.
  • Bila seseorang disuntik Nikotin 7 mg, maka ia akan langsung mati di tempat sedangkan satu batang rokok ukuran normal umumnya mengandung 2 mg Nikotin.

Lebih kurang 1,1 milyar penduduk dunia merokok (World Bank, 1999). Pada tahun 2025, jumlah tersebut diperkirakan akan meningkat sampai dengan 1,6 milyar. Dengan jumlah perokok sebanyak 75% dari populasi. WHO melaporkan bahwa Indonesia adalah salah satu dari lima negara yang terbanyak perokoknya di dunia (Adiatma ,1992).

Hal diatas tidak dapat dikatakan prestasi yang membangggakan. Dalam peringatan Hari Anti Tembakau Internasional (31 Mei 2006), Indonesia masih dihadapkan sebagai Negara yang termasuk lima besar konsumsi rokok dunia. Sehubungan dengan kebiasaan merokok, ada yang aneh dengan bangsa kita ini, jika negara lain menunjukkan trend penurunan kebiasaan merokok, di Indonesia justru memperlihatkan kenaikan, meski dililit problem ekonomi. Lebih celaka lagi, biaya yang dikeluarkan masyarakat untuk konsumsi rokok justru jauh lebih besar dibandingkan anggaran kesehatan perkapita.

Sebuah survey yang dijabarkan oleh Dr. Martha Tilaar tentang perokok di Indonesia menurut jenis kelamin menyatakan bahwa jumlah perokok di Indonesia memang masih lebih banyak di kalangan pria ( 60 % pria merokok ) dan wanita yang merokok 10 %. Sebelumnya dari survey yang dilakukan menurut Medika Jurnal Kedokteran Indonesia Maret 2006, bahwa laki-laki remaja lebih banyak menjadi perokok dan hampir dua pertiga dan kelompok umur produktif adalah perokok. Selama 5 tahun telah terjadi peningkatan, pada pria prevalensi perokok tertinggi adalah kelompok umur 25 &29 tahun. Hal ini terjadi karena jumlah perokok pemula lebih jauh lebih banyak dari perokok yang berhasil berhenti merokok dalam satu rentang populasi penduduk

Pakar penyakit paru FKUI Prof. Dr. Hadiarto Mengunnegoro, Sp.P., menyatakan jumlah perokok aktif Indonesia naik dari 22,5% pada tahun 1990-an menjadi 60% jumlah penduduk tahun 2000. WHO memperkirakan bahwa 59% pria berusia diatas 10 tahun di Indonesia telah menjadi perokok harian.

Diperkirakan bahwa konsumsi rokok Indonesia setiap tahun mencapai 199 miliar batang rokok atau urutan ke-4 setelah RRC (1679 miliar batang), AS (480 miliar), Jepang (230 miliar), dan Rusia (230 miliar). Dalam 10 tahun terakhir konsumsi rokok di Indonesia mengalami peningkatan sebsesar 44,1 % dan jumlah perokok di Indonesia sekitar 70 %. Yang lebih menyedihkan lagi 60 % diantara perokok adalah kelompok yang berpenghasilan rendah. Tingginya komsumsi merokok dipercaya bakal menimbulkan implikasi negative yang sangat luas tidak saja terhadap kualitas kesehatan tetapi juga menyangkut kehidupan sosial ekonomi.

Menurut WHO rata-rata orang Indonesia menggunakan 15 % uangnya untuk membeli rokok, memang bukan angka yang luar biasa jika dibandingkan dengan Bangladesh. Biaya yang harus dikeluarkan oleh seorang perokok tiap tahunnya sangat besar. Dengan asumsi sehari rata-rata seorang perokok menghabiskan sebungkus rokok dengan harga Rp 5000,-per bungkus dalam sebulan ia harus mengeluarkan uang Rp 150.000,- dan dalam setahun Rp 1.825.000.-. uang sebanyak itu bisa kita hemat jika kebiasaan merokok dikurangi atau bahkan dihentikan.

 

2.5 IDENTIFIKASI KEBERADAAN ROKOK

        a)   Dengan wawancara. Menanyakan langsung kepada yang bersangkutan ada tidaknya merokok dan hal terkait dengan rokok.           

        b) Menanyakan kepada keluarga atau orang terdekat tentang subjek yang disangka
merokok.

        c)   Dengan pemeriksaan ekskresi komponen rokok pada urin, misalnya nikotin.

 

2.6      VARIABEL MEROKOK   

        a)   Jenis perokok. Pasif atau aktif.         

        b)   Jumlah rokok yang dihisap dalam sehari.      

        c)   Jenis rokok yang dihisap.      

        d)   Cara menghisap rokok.         

        e)   Alasan mulai merokok.         

        f)   Umur mulai merokok.           

 

2.7 BERHENTI MEROKOK

        Beberapa cara yang dapat dilakukan untuk berhenti merokok;

        a) Menurunkan jumlahnya secara bertahap.       

        b) Berhenti ”cold turkey”.

        c) Mencarikan bentuk penggantinya, misalnya gula-gula

Setelah kita mengetahui kandungan bahan-bahan kimia berbahaya dalam rokok dan akibatnya bagi kesehatan manusia, maka alangkah bodohnya manusia yang masih merokok dan tidak ada niatan untuk berhenti merokok.

Berhenti merokok Kurt Salzer (1950:59), dalam Thrirteen Ways to Break the Smoking Habit, mengemukakan, ada 13 metode berhenti merokok.

(1) Menyadari apa sebabnya Anda merokok.

(2) Langsung berhenti merokok.

(3) Jangan merokok waktu melakukan sesuatu atau sewaktu mengemudikan kendaraan.

(4) Katakan kepada diri, “Saya tidak akan merokok hari ini”.

(5) Tentukan suatu hari untuk berhenti merokok.

(6) Katakan, “ya” bagi kesehatan Anda, dan katakan “tidak” untuk penyakit.

(7) Merokok mengurangi kecantikan Anda. Oleh karena itu, katakan “ya” untuk kecantikan muka Anda dan “tidak” atas kerusakan kecantikan karena rokok.

(8) Adalah watak orang-orang muda, bahwa walaupun ada sifat menentang ibu-bapak atau guru, namun mencoba meniru mereka. Bapak atau guru yang melarang anak-anak merokok, tetapi mereka sendiri merokok, akan diikuti anak-anak jadi perokok. Oleh karena itu, Anda perlu menyadari pengaruh Anda sebagai orang tua atau guru, kalau Anda masih tetap merokok.

(9) Pernahkah Anda membakar uang lembaran seribu rupiah? Anda, dengan merokok telah membuatnya.

(10) Seseorang perokok telah terbiasa dengan bau rokok yang sangat tajam. Organismenya telah terbiasa dengan kadar nikotin tertentu. Gantinya memarahi seorang anak yang merokok, dipaksa merokok sampai dia merasa sakit. Akibatnya, kapan saja anak itu mencium bau rokok, dia merasa sakit.

 (11) Tersedak atau ketegukan akan berhenti dengan memperhatikan diafragma Anda, bagaimana diafragma itu mengembang dan mengempis. Amati diri Anda, kalau Anda sedang ingin merokok. Keinginan itu datang dari luar. Lalu tutup mata Anda dan pikirkan mengalahkan pengaruh luar tersebut.

(12) Dalam pertentangan antara kuasa kemauan dan kuasa imajinasi, maka kuasa imajinasi itu akan menang. Bayangkanlah Anda tidak akan merokok lagi, maka Anda akan berhasil.

(13) Agar metode imajinasi itu berhasil, jangan bimbang. Dengan santai katakanlah kepada diri, “Saya tahu bahwa saya tidak akan merokok lagi”. Oleh karena itu, Anda tidak akan merokok lagi.

 BAB III

PENUTUP

 

3.1 KESIMPULAN

Merokok merupakan salah satu kebiasaan yang lazim ditemui dalam kehidupan sehari-hari. Gaya hidup ini menarik sebagai suatu masalah kesehatan, minimal dianggap sebagai faktor resiko dari berbagai macam penyakit. Rokok merupakan salah satu produk industri dan komoditi internasional yang mengandung sekitar 1500 bahan kimiawi. Unsur-unsur yang penting antara lain tar, nikotin, benzopyrin, metilkloride, aseton. Ammonia dan karbon monoksida.

Tar, nikotin, karbon monoksida merupakan 3 zat penting yang paling berbahaya bagi tubuh.Sudah diketahui secara umum bahwa merokok sama sekali tidak menimbulkan manfaat kesehatan mutlak bagi tubuh. Yang akan didapatkan dari kebiasaan merokok ini hanyalah kumpulan penyakit yang sejatinya hanya membawa kesusahan bagi siapapun pelaku merokok ini.

Oleh karena itu alangkah baiknya jika kita semua sebagai orang yang telah memahami tentang bahaya rokok setelah membaca makalah ini diharapkan untuk dapat menjaga kesehatan diri, keluarga, teman dekat, dan semua orang yang kita sayangi agar menjauhi rokok supaya terhindar dari penyakit yang semestinya tidak perlu dialami

 

3.2 SARAN

            Perlunya menciptakan kesadaran sendiri bagi setiap individu untuk menghindari bahkan tidak mengkonsumsi rokok, promosi dan iklan mengenai bahaya rokok perlu ditingkatkan, sosialisasi dan penyuluhan kepada masyarakat harus tetap digalakkan, dalam hal ini bukan hanya seorang saja yang berperan akan tetapi semua unsur masyarakat wajib mengambil andil dalam memberantas rokok, selain itu perlu aturan tamabahan mengenai hal itu yang wajib diberlakukan di masyarakat.

 DAFTAR PUSTAKA

AmiruddinRidwan.2007.Hubungansebabakibatdalamilmuepidemilogi.http://ridwanamiruddin.wordpress.com/2007/06/28/hubungan-sebab-dan-akibat-dalam-ilmu-epidemiologi/.diakses 14 oktober 2010

AmiruddinRidwan,2009.Merokokdanefeknyaterhadapkesehatan.http://ridwanamiruddin.wordpress.com/2009/02/17/merokok-dan-efeknya-terhadap-kesehatan/diakses 14 oktober 2010

 Arief.2010.EpidemiologiMerokok.http://ariefsarjanakesmas.blogspot.com/2010/04/epidemiologi-merokok.html. diakses 14 oktober 2010

 TeamHimapid.2007.EpidemilogiRokok.http://himapid.blogspot.com/2007/12/epidemiologi-rokok.html.diakses 14 oktober 2010

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s