Virus di Vektor

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG

Demam Berdarah Dengue yang selanjutnya disebut DBD muncul pertama kali pada tahun 1954. Di mulai dengan laporan Quintos di Filipina tentang adanya epidemi suatu penyakit dengan gejala-gejala panas, perdarahan akut dan shok. Ia menemukan 58 anak tergeletak dengan gejala yang sama bahkan 28 diantaranya meninggal. Ini menandakan, demam berdarah sudah mengawali serangannya di Asia Tenggara. Beberapa tahun kemudian, penyakit ini mulai merambah ke beberapa negara Asia, seperti Thailand tahun 1958, Vietnam Utara tahun 1958, Singapura tahun 1960, Laos tahun 1962, dan India tahun 19631.

Demam Berdarah Dengue (DBD) merupakan salah satu masalah kesehatan utama di Indonesia, bersifat endemis dan timbul sepanjang tahun disertai epidemi tiap lima tahunan dengan kecenderungan interval serangan epidemi menjadi tidak teratur. Permasalahan DBD di Indonesia adalah masih tingginya insiden dan penyebaran penyakit yang semakin meluas, yang ditandai dengan beberapa kejadian luar biasa /KLB dengan siklus 5-10 tahunan. Faktor-faktor permasalahan epidemiologi DBD adalah (1) Manusia sebagai hospes dengan kepadatan dan mobilitasnya yang tinggi, (2) Nyamuk Aedes spesies sebagai vektor tersebar luas diseluruh Tanah air dan (3) Empat jenis serotipe virus Dengue DEN-1,DEN-2 dan DEN-3 serta DEN-4 sebagai penyebab DBD (Sumarmo, 1999. Suroso, 1999) Virus Dengue mempunyai empat jenis serotipe yaitu : DEN-1,DEN-2 dan DEN-3 serta DEN-4. Struktur antigen ke empat serotipe ini sangat mirip satu dengan yang lain, namun antibodi terhadap masing-masing serotipe tidak dapat saling memberikan perlindungan silang.

Variasi genetik Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) ataupun Dengue Haemorrhagic Fever (DHF) yang dapat bermanifestasi sebagai Dengue Shock Syndrome (DSS) merupakan suatu penyakit menular tidak langsung. Cara penularannya melalui vektor nyamuk Ae. aegypti dan Aedes albopictus. Berdasar pengalaman sampai saat ini, pada umumnya yang paling berperanan dalam penularan adalah Ae. aegypti, karena hidupnya di dalam dan disekitar rumah; sedangkan Aedes albopictus di kebun-kebun, sehingga lebih jarang kontak dengan manusia. Di Indonesia yang paling banyak adalah DEN-3 yang ganas dan virulen (Infokes Dinkes Prop.Jateng. 2004: 4).

 Infeksi virus dengue telah menjadi masalah kesehatan yang serius pada banyak negara tropis dan subtropisSeluruh wilayah tropis di dunia saat ini telah menjadi hiperendemis DBD dengan keempat serotipe virus secara bersama- sama di wilayah Amerika, Asia Pasifik, Afrika, Indonesia,Myanmar, Thailand masuk kategori A yaitu termasuk Kejadian Luar Biasa (KLB) atau wabah siklis terulang pada jangka waktu antara 3 sampai 5 tahun (WHO,2000). Bukan hanya virus dengue akan tetapi terdapat pula virus yellow fever, chikungunya dan japanese encephalits yang terkadang menimbulkan wabah akan tetapi dengan rentang waktu yang berbeda.

1.2 RUMUSAN MASALAH

          Rumusan masalah akan memeperjelas pada apa yang akan dibahas pada bab selanjutnya adapun yang akan dibahas yaitu mengenai

  • Daftar spesies virus yang tergolong dalam vektor
  • Apa indikator ekologi virus di vektor
  • Apa data penelitian yang relevan berkaitan dengan virus di vektor

1.3 TUJUAN

  • Mengetahui spesies virus yang tergolong dalam vektor
  • Mengetahui indikator ekologi virus di vektor
  • Mengetahui penelitian yang relevan berkaitan dengan virus di vektor

BAB II

PEMBAHASAN

 

2.1 SPESIES VIRUS DI VEKTOR

Aedes aegypti merupakan jenis nyamuk yang dapat membawa virus dengue penyebab penyakit demam berdarah dengue. Selain dengue, Aedes aegypti juga merupakan pembawa virus demam kuning (yellow fever) dan chikungunya. Penyebaran jenis ini sangat luas, meliputi hampir semua daerah tropis di seluruh dunia. Sebagai pembawa virus dengue, Aedes aegypti merupakan pembawa utama (primary vector) dan bersama Aedes albopictus menciptakan siklus persebaran dengue di desa dan di kota. Mengingat keganasan penyakit demam berdarah dengue, masyarakat harus mampu mengenali dan mengetahui cara – cara mengendalikan jenis nyamuk ini untuk membantu mengurangi persebaran penyakit demam berdarah dengue (Wikipedia, 2008). Nyamuk Aedes aegypti hidup di dalam dan di sekitar rumah, juga ditemukan di tempat umum dan mampu terbang sampai 100 meter. Umur nyamuk Aedes aegypti rata – rata 2 minggu, tetapi sebagian diantaranya dapat hidup 2 – 3 bulan (Depkes RI, 2004). Virus dengue berukuran kecil sekali + 35-45 nm.

 
   

 

 

Virus dengue

Infeksi virus dalam tubuh nyamuk dapat mengakibatkan perubahan perilaku yang mengarah pada peningkatan kompetensi vektor, yaitu kemampuan nyamuk menyebarkan virus. Infeksi virus dapat mengakibatkan nyamuk kurang handal dalam menghisap darah, berulang kali menusukkan proboscisnya, namun tidak berhasil mengisap darah sehingga nyamuk berpindah dari satu orang ke orang lain. Akibatnya, risiko penularan virus menjadi semakin besar diperkirakan sekitar 100 juta virus mampu menyerang tubuh dan membuat sakit yang vektornya aedes aegypty dan 1 juta virus yang vektornya aedes albopictus. Flavivirus merupakan virus dengan diameter 30 nm, bulat, terdiri dari RNA tunggal dengan berat molekul 4×106 Da. Virus dengue berbentuk batang, bersifat termolabil, sensitive terhadap inaktivasi oleh dietileter dan natrium diosikolat, stabil pada suhu 70 C

Selain virus dengue, jenis virus lain yang terdapat di vektor ialah Virus chikungunya yaitu  virus yang penyebarannya meliputi wilayah Afrika, Asia Tenggara dan India, Japanese Encephalitis (JE) adalah suatu penyakit yang ditularkan oleh vektor nyamuk dan disebabkan oleh virus JE. Virus tersebut masuk dalam genus Flavivirus dan famili Tobaviridae. Partikel virus berbentuk sferis dengan envelope dari banyak lipid, garis tengah 45 – 50 nm, multiplikasi lebih baik pada suhu rendah dan ditemukan perbedaan di antara ke 53 strain virus JE.

2.1. INDIKATOR EKOLOGI VIRUS DI VEKTOR

Penyakit DBD melibatkan 3 (tiga) organisme yaitu : Virus Dengue, nyamuk Aedes, dan host manusia. Secara alamiah ketiga kelompok organisme tersebut dipengaruhi oleh sejumlah faktor lingkungan biologik, lingkungan fisik dan imunitas dari pada host, baik sebagai individu maupun populasi. Pola perilaku yang terjadi dan status ekologi dari ketiga kelompok organisme tadi dalam ruang dan waktu saling berkaitan dan saling membutuhkan, oleh karena itu dari pengaruh penyakit DBD berbeda derajat endemitasnya pada suatu lokasi ke lokasi yang lain dan dari tahun ke tahun. Untuk memahami kejadian penyakit yang ditularkan vektor dan untuk pemberantasan penyakit sebagai ekosistem alam yaitu AntrophoEcosystem dimana subsistem yang terkait dalam ekosistem ini adalah:

virus, nyamuk Aedes, manusia, lingkungan fisik dan lingkungan biologik.

–          Virus Dengue

Termasuk dalam flavivirus group dari famili Togaviridae, ada 4 serotype yaitu Dengue-1 , Dengue-2, Dengue-3 dan Dengue-4. Virus ini terdapat dalam darah penderita 1-2 hari sebelum demam. Virus tersebut berada dalam darah (Viremia) penderita selama masa periode intrinsik 3-14 hari (rata-rata 4-7 hari). Pada suhu 30°C, di dalam tubuh nyamuk Aedes aegypti memerlukan waktu 8-10 hari untuk menyelesaikan masa inkubasi extrinsik dari lambung sampai ke kelenjar ludah nyamuk. Virus Dengue dalam Tubuh Nyamuk Virus dengue didapatkan nyamuk Aedes pada saat melakukan gigitan pada manusia (vertebrata) yang sedang mengandung virus dengue dalam darahnya (viraemia). Virus yang sampai ke dalam lambung nyamuk akan mengalami replikasi (membelah diri atau berkembang biak), kemudian akan migrasi yang akhirnya akan sampai di kelenjar ludah.

–          Nyamuk Aedes

Virus dengue ditularkan dari orang sakit ke orang sehat melalui gigitan nyamuk Aedes dari subgenus Stegomyia. Di Indonesia ada 3 jenis nyamuk Aedes yang bisa menularkan virus Dengue yaitu : Aedes aegypti, Aedes albopictus dan Aedes scutellaris. Dari ketiga jenis nyamuk tersebut Aedes aegypti lebih berperan dalam penularan penyakit DBD. Nyamuk ini banyak ditemukan di dalam rumah atau bangunan dan tempat perindukannya juga lebih banyak terdapat di dalam rumah.

–          Manusia.

Sebagai sumber penularan dan sebagai penderita penyakit DBD. berdasarkan golongan umur maka penderita DBD lebih banyak pada golongan umur kurang dari 15 tahun. Virus Dengue dalam Tubuh Manusia Virus dengue memasuki tubuh manusia melalui proses gigitan nyamuk yang menembus kulit. Setelah nyamuk mengigit manusia disusul oleh periode tenang + 4 hari, virus melakukan replikasi secara cepat dalam tubuh manusia virus akan memasuki sirkulasi darah (viraemia) apabila jumlah virus sudah cukup, dan manusia yang terinfeksi akan mengalami gejala panas. Tubuh memberi reaksi setelah adanya virus dengue dalam tubuh manusia. Bentuk reaksi terhadap virus antara manusia yang satu dengan manusia yang lain dapat berbeda dan akan memanifestasikan perbedaan penampilan gejala klinis dan perjalanan penyakit.

Lingkungan fisik yang terkait dapat berupa tempat penampungan air dan tempat yang memungkinkan berkembang biaknya nyamuk sehingga mampu menularkan virus dengue. Lingkungan Biologi yang mempengaruhi penularan penyakit DBD terutama adalah banyaknya tanaman hias dan tanaman pekarangan, yang mempengaruhi kelembaban dan pencahayaan di dalam rumah dan halamannya.

2.1. DATA PENELITIAN VIRUS DI VEKTOR

Virus Dengue adalah anggota genus Flavivirus dan famili Flaviviridae. Virus berukuran kecil (50 nm) memiliki single strandard RNA. Virionnya terdiri atas nucleocapsid dengan bentuk kubus simetri yang terbungkus dalam sampul lipoprotein. Genome (rangkaian kromosom) dari virus dengue berukuran panjang sekitar 11.000 base pairs dan terbentuk dari tiga gen protein struktural yaitu nucleocapsid atau protein core (C), membrane associated protein (M) suatu protein envelope dan gen protein non struktural (NS). Envelope glycoprotein berhubungan dengan aktifitas hemagglutinasi dan netralisasi virus. Virus Dengue membentuk suatu kompleks yang nyata di dalam genus Flavivirus berdasarkan pada karakteristik antigenik dan biologinya. diperkirakan sekitar 100 juta virus mampu menyerang tubuh dan membuat sakit yang vektornya aedes aegypty dan 1 juta virus yang vektornya aedes albopictus. Flavivirus merupakan virus dengan diameter 30 nm, bulat, terdiri dari RNA tunggal dengan berat molekul 4×106 Da. Virus dengue berbentuk batang, bersifat termolabil, sensitive terhadap inaktivasi oleh dietileter dan natrium diosikolat, stabil pada suhu 70 C Terdapat 4 serotipe virus yang disebut sebagai DEN-1, DEN-2, DEN-3, dan DEN-4. Terinfeksinya seseorang dengan salah satu serotipe tersebut diatas akan menyebabkan kekebalan seumur hidup terhadap serotipe virus bersangkutan. Meskipun keempat serotipe tersebut mempunyai daya antigenis yang sama namun berbeda didalam menimbulkan proteksi silang meski baru beberapa bulan terjadi infeksi dengan salah satu dari DEN tersebut.  

Angka bebas jentik dan House index lebih menggambarkan luasnya penyebaran nyamuk di suatu wilayah. Tidak ada teori yang pasti berapa angka bebas jentik dan house index yang dipakai standart, hanya berdasarkan kesepakatan, disepakati House index minimal 5 % yang berarti persentase rumah yang diperiksa jentiknya positip tidak boleh melebihi 5 % atau 95 % rumah yang diperiksa jentiknya harus negatif sehingga penyebaran infeksi virus dengue juga tak terjadi.

Penularan virus Dengue dapat terjadi secara horizontal, dari manusia pembawa virus Dengue (donor) melelui nyamuk Ae. Aegypti. Setelah mengalami propagasi dalam tubuh nyamuk sampai batas masa inkubasi ekstrinsiknya, ditularkan ke manusia penerima (resipien), yang mungkin masih rentan atau bahkan telah imun terhadap virus dengue. Penularan virus dengue mungkin juga secara vertikal (transovarial), yaitu dari nyamuk Ae. aegypti betina gravid yang terinfeksi virus dengue sebagai induk ke ovum (telur) dalam uterus nyamuk itu, yang akhirnya berpropagasi dalam embrio dalam telur, selanjutnya virus dengue menggunakan larva sampai imagonya sebagai medium hidup untuk perbanyakannya. Manusia bisa terinfeksi virus dengue sewaktu pertama kali nyamuk yang muncul dari pupanya dalam air menggigit dan mengisap darah.

Hasil-hasil pengamatan lapangan yang mendukung arti penting indeks-indeks tersebut secara epiemiologis adalah pengamatan Connor dan Monroe  ada tahun 1922, yang menyatakan bahwa CI = 10% terkait dengan zona bebas penularan di daerah urban di negara-negara Amerika Tengah dan Utara. Untuk daerah tropis, Soper memberikan tingkat profilaksis HI = 5%.

Yang terinfeksi. DEN-1, DEN-3 dan DEN-mix memberikan gambaran yang hampir sama yaitu pada 2 jam setelah infeksi masing-masing serotipe virus Dengue menghasilkan titer antigen virus lebih tinggi dibandingkan dengan 4 jam setelah infeksi.Hal ini disebabkan proses perlekatan virus Dengue pada ke-3 perlakuan di atas belum terjadi sepenuhnya sehingga pada waktu pengambilan medium kultur yang digunakan untuk mengetahui titer antigennya ikut terambil.

Hasil pengamatan daya replikasi masing – masing serotipe virus Dengue dengan double sandwich ELISA

Sementara Ae. albopictus dapat berkembang biak di habitat perkebunan terutama pada lubang pohon atau pangkal babu yang sudah dipotong yang biasanya jarang terpantau di lapangan  Kondisi itu dimungkinkan karena larva nyamuk tersebut dapat berkembang biak dengan volume air minimum kira-kira 0.5 sentimeter setara atau dengan dengan satu sendok teh

AWA Brown mencatat bahwa pada saat epidemi Yellow Fever tahun 1965 di Dourbel, Senegal, penularan terjadi dimana CI > 30 dan BI > 50 (atau DI > 5), bukannya BI < 5 (DI = 1). Demikian pula terkait dengan DBD di Singapura, paling prevalen terjadi pada HI > 15, terkait dengan DI > 3.(7,8) Indeks-indeks traditional tersebut telah dapat memprediksikan tingkat yang aman untuk penularan dengue, namun terdapat beberapa keterbatasan.

BI memiliki kelebihan gabungan informasi antara kontainer dan rumah, namun juga tidak bisa menginformasikan jenis kontainer yang produktif menghadirkan larva pada masing-masing rumah. Atas keterbatasan ini, Connor dan Monroe menyarankan pengukuran imunitas kelompok masyarakat lebih sensitif dibanding indeks-indeks traditional tersebut.

Chen, et al. (1996) menunjukkan, bahwa pada infeksi primer virus Dengue terjadi interaksi antara protein envelope virus Dengue dengan sel target, yang merupakan dasar molekul yang kuat. Hal ini sangat penting untuk mengetahui potensial infektivitas interaksi tersebut

Leitmayer, et al. (1999) menyatakan bahwa infeksi primer DEN-2 dapat memberikan manifestasi klinis Dengue fever (DF) atau Dengue hemorrhagic fever (DHF), hal ini dipengaruhi oleh variasi genetik yang dimiliki oleh virus tersebut sewaktu menginfeksi hospes.

Variasi genetik yang berbeda pada ke empat serotipe ini tidak hanya menyangkut antar serotipe, tetapi juga didalam serotipe itu sendiri tergantung waktu dan daerah penyebarannya. Secara klinik ke empat serotipe virus Dengue ini mempunyai tingkatan manifestasi yang berbeda (Sumarmo. 1999). Pada penelitian serotipe virus Dengue yang dilakukan di Malaysia menyatakan bahwa serotipe virus Dengue dapat di isolasi dari telur/larva nyamuk Aedes spesies dan nyamuk dewasanya (Ahmad, 1997). Penelitian serotipe virus Dengue dilakukan dari vektor penyakitnya yaitu nyamuk Aedes spesies. Hasil Pemeriksaan RT-PCR, distribusi serotipe virus Dengue di empat wilayah Puskesmas endemis tinggi dan rendah Kota Semarang adalah sebagai berikut :

Dari wilayah Puskesmas Karang Anyar I didapat serotipe virus DEN-3, dari wilayah Puskesmas Karang Anyar II didapat serotipe virus DEN-2 dan dari wilayah Puskesmas Karang Anyar III didapat serotipe virus DEN-3 serta seterusnya sampai wilayah Puskesmas Miroto III didapat serotipe virus DEN-2.

Dari wilayah Puskesmas Sekaran I didapat serotipe virus DEN-3, dari wilayah Puskesmas Sekaran II tidak didapat serotipe virus Dengue dan dari wilayah Puskesmas Sekaran III juga tidak didapat serotipe virus Dengue serta seterusnya sampai wilayah Puskesmas Bandarharjo III didapat serotipe virus DEN-1.Hasil pemeriksaan RT-PCR terhadap 15 kelompok nyamuk Aedes spesies dari wilayah Puskesmas endemis tinggi Kota Semarang, didapatkan serotipe virus DEN-1 sebanyak tiga buah, serotipe virus DEN-2 sebanyak lima buah, dan serotipe virus DEN-3 sebanyak enam buah, serta serotipe virus DEN-4 sebanyak sebuah, dengan serotipe virus DEN-3 sebagai serotipe yang dominan. Lima belas kelompok nyamuk Aedes spesies dari wilayah Puskesmas endemis rendah Kota Semarang, didapatkan serotipe virus DEN-1 sebanyak dua buah, serotipe virus DEN-2 sebanyak tiga buah, dan serotipe virus DEN-3 sebanyak empat buah, serta serotipe virus DEN-4 sebanyak sebuah, dengan serotipe virus DEN-3 sebagai serotipe yang dominan.

Diketahui sifat vektor penyakit DBD tidak terbang jauh dari lokasi penderita, maka sangat mungkin masing-masing daerah endemis mempunyai vektor penyakit DBD sendiri dan peran faktor risiko DBD di masing-masing daerah ikut menentukan, atau ada faktor lain lagi yang menyebabkan terjadi fenomena distribusi daerah endemis DBD di Kota Semarang tidak homogen. Dari semua 15 wilayah Puskesmas endemis tinggi didapati serotipe virus Dengue dan hasilnya merata setiap daerah satu serotipe Dengue, tidak ada yang campuran. Dari 15 wilayah Puskesmas  endemis rendah hanya terdapat 10 daerah saja yang terdapat serotipe virus Dengue dan hasilnya juga merata setiap daerah satu serotipe Dengue, jadi ada lima wilayah yang tidak didapat serotipe virus Dengue, yaitu wilayah Puskesmas Sekaran II, wilayah Puskesmas Sekaran III, wilayah Puskesmas Sekaran V dan wilayah Puskesmas Karang Malang I serta wilayah Puskesmas Mangkang II. Jadi sampel penelitian yang diikutkan dalam penelitian hanya dari 25 wilayah Puskesmas endemis Kota  Semarang saja. Mungkin ada faktor lain yang menyebabkan fenomena seperti ini. Pada lima wilayah Puskesmas tersebut, dimungkinkan terjadi karena : (1) Sampel penelitian menggunakan nyamuk tangkar dengan rentang waktu yang panjang, sehingga mungkin pemeriksaan RT-PCRnya pada nyamuk yang tidak mengandung virus Dengue. (2) Mungkin sampel yang diambil dari wilayah Puskesmas endemis adalah nyamuk yang tidak mengandung virus Dengue. (3) Kesalahan teknis pemeriksaan RT-PCR. (4) Sebab-sebab lain. Hal ini diperkuat oleh penelitian sebelumnya, bahwa tidak semua sampel nyamuk Aedes spesies dan telurnya mengandung virus Dengue (Ahmad, 1997). Dari hasil uji diketahui keeratan hubungan antara distribusi serotipe virus Dengue dengan tingkat endemisitas DBD di Kota Semarang sebesar X2, hitung < X2 tabel = 0,000 < 7,82 dan signifikansi p 1,000 > 0,05, Ho diterima. Hal ini menunjukan ”tidak ada hubungan yang bermakna antara distribusi serotipe virus Dengue (DEN-1; DEN-2; DEN-3; DEN-4) dari isolat nyamuk Aedes spesies dengan tingkat endemisitas DBD”. Penelitian penularan secara transovarian dari keempat serotipe Dengue pada A aegypti dan A albopictus sebelumnya telah dibuktikan antara lain di Malaysia, dan menyatakan bahwa A aegypti sebagai vektor utama di daerah perkotaan dan berperan penting dalam bertahannya virus Dengue di alam bebas manakala tidak ada host atau ketika lingkungan tidak mendukung aktivitas vektornya. Juga diperkuat lagi dengan deteksi virus Dengue pada nyamuk A albopictus jantan yang berasal dari penangkaran larva yang didapat dilapangan (Ahmad, 1997).

Jenis serotipe virus Dengue yang didapat pada penelitian ini di dominasi oleh serotipe DEN-3, yang diikuti oleh serotipe DEN-2, kemudian serotipe DEN-1 dan akhirnya sedikit sekali serotipe DEN-4. Di Indonesia pada KLB tahun 1988, distribusi serotipe virus Dengue didominasi oleh serotipe DEN-3. Pada KLB tahun 1998 didominasi oleh serotipe DEN-3 dan DEN-2. Kemudian pada KLB tahun 2004 distribusinya adalah serotipe DEN-3 ada 37%, serotipe DEN-4 ada 17% dan selebihnya serotipe DEN-2 dan DEN-1. Di Kuba pada KLB tahun 1977, distribusi serotipe virus Dengue hanya didapat serotipe DEN-1. Sedang pada KLB tahun 1981 hanya didapat serotipe DEN-2 (Guzman. 1981). Dinyatakan bahwa (1) Tingkat endemisitas DBD ditentukan oleh survey jentik dan jumlah penderita DBD. (2) Tingginya nilai survey jentik ditentukan oleh distribusi vektor DBD dan tidak ditentukan oleh distribusi serotipe virus Dengue. (3) Serotipe virus Dengue berpengaruh terhadap virulensi nyamuk Aedes spesies sebagai vektor DBD tetapi tidak berpengaruh terhadap jumlah vektor DBD atau terhadap survei jentik. (4) Jumlah penderita DBD ditentukan oleh virulensi virus Dengue dan usia, gizi serta status imun penderita dan tidak ditentukan oleh distribusi serotipe virus Dengue. (5) Masih menjadi usulan penelitian untuk membuktikan apakah ada hubungan antara distribusi serotipe virus Dengue dengan tingkat keparahan DBD. Aedes aegypti adalah spesies nyamuk dari daerah tropis dan subtropis ditemukan antara garis lintang 35 U dan 35 S, Aedes aegypti telah ditemukan sejauh 45 U, penyebaran ini telah terjadi selama musim panas, dan nyamuk tidak hidup pada musim dingin.

Distribusi Aedes aegypti juga dibatasi oleh ketinggian, biasanya tidak ditemukan di atas ketinggian 1000 m tetapi dilaporkan pada ketinggian 2121 m di India, pada 2200 m di Kolombia, dimana suhu rerata tahunan adalah 17°C, dan pada ketinggian 2400 di Eritrea.Ae. aegypti adalah salah satu vektor yang efisien untuk arbovirus, karena nyamuk ini sangat antropofilik dan hidup dekat manusia dan sering hidup didalam rumah. Wabah Dengue juga telah ditularkan oleh nyamuk Ae. albopictus, Ae. polynesiensis, dan banyak sepesies komplek Ae. scutelaris. Setiap sepesies ini mempunyai distribusi geografisnya masing-masing; namun mereka adalah vektor epidemik yang kurang efisien dibanding Ae. aegypti.Sementara penularan vertikal (kemungkinan transovarian) virus dengue telah dibuktikan di laboratorium dan di lapangan, signifikasi penularan ini untuk pemeliharaan virus belum dapat ditegakkan.

Virus Dengue ditularkan dari orang sakit ke orang yang sehat melalui gigitan nyamuk Aedes sub genus Stegomyia. Di Indonesia ada tiga jenis nyamuk aedes yang bisa menularkan virus dengue yaitu Aedes aegypti, Aedes albopictus dan Aedes scutelaris. Dari ketiga jenis nyamuk tersebut Aedes aegypti lebih berperan dalam penularan penyakit DBD. Nyamuk ini banyak ditemukan di dalam rumah atau bangunan dan tempat perindukannya lebih banyak di dalam rumah

Nyamuk Aedes aegypti akan menjadi vektor apabila:

a. Ada virus dengue pada orang yang dihisap darahnya, yaitu orang sakit DBD, 1-2 hari sebelum demam atau 4-7 hari selama demam.

b. Nyamuk hanya akan bisa menularkan penyakit apabila umurnya lebih dari 10 hari, oleh karena masa inkubasi extrinsik virus di dalam tubuh nyamuk 8 – 10 hari. Untuk nyamuk bisa mencapai umur lebih dari 10 hari perlu tempat hinggap istirahat yang cocok dan kelembaban tinggi, karena nyamuk bernapas dengan spiracle dengan demikian permukaan tubuhnya luas dan menyebabkan penguapan tinggi, bila kelembaban rendah nyamuk akan mati kering. Tempat hinggap tersedia oleh adanya lingkungan fisik dan kelembaban dipengaruhi oleh lingkungan fisik (curah hujan) atau lingkungan biologi (tanaman hias atau tanaman pekarangan).

c. Untuk dapat menularkan penyakit dari orang ke orang nyamuk harus menggigit orang/manusia yang mengandung virus dengue.

d.  Untuk bisa bertahan hidup maka jumlah nyamuk harus banyak karena musuhnya banyak (manusia dan sebagai makanan hewan seperti ikan kepala timah; katak; cicak dan lain-lainya).

e. Nyamuk juga harus tahan terhadap virus, karena virus akan memperbanyak diri di dalam tubuh nyamuk dan bergerak dari lambung, menembus dinding lambung dan kelenjar ludah nyamuk.

Pada teori virulensi virus, teori ini mengatakan seseorang akan terkena virus dengue dan menjadi sakit kalau jumlah dan virulensi virus cukup kuat. Keempat serotipe virus mempunyai potensi patogen yang sama dan syok sindrom terjadi sebagai akibat serotipe virus yang paling virulen (Hendarwanto, 1996).

virulensi virus ditentukan oleh:

a. keberadaan dan aktivitas reseptor pada permukaan inang yang memudahkan virus untuk melekat

b. kemampuan virus menginfeksi sel

c. kecepatan replikasi virus dalam sel inang

d. kemampuan sel inang dalam menahan serangan virus

            Jadi masuknya virus ke dalam tubuh tidak mutlak dapat menimbulkan penyakit hal ini juga tergantung pada pertahanan tubuh individu tersebut.

PENGAMATAN VIROLOGIK

Terdapat 4 serotipe virus Dengue sebagai penyebab DBD yaitu Dl, D2, D3 dan D4. Penyelidikan virologik di Jakarta dalam kurun waktu 1975 – 1985 menunjukkan bahwa virus D3 merupakan virus yang paling banyak diisolasi4,5. Dalam tahun 1985 – 1986 nampaknya terjadi pergeseran pola distribusi virus di Bagian Anak RSCM di man a virus D2 merupakan virus Dengue yang paling banyak diisolasi5. Selama letupan epidemi DBD tahun 1987 – 1988 di Bagian Anak RS Sumber Waras dapat diisolasi 151 virus. Dengue dengan 69.5% di antaranya virus D3.

Tabel 1. Distribusi virus Dengue di Jakarta.

Tahun

Dengue Serotipe

Total

D1

D2

D3

D4

1975-1977

1980-1983

1984 – 1985

1985 – 1986

1987-1988

23

17

7

4

25

38

25

14

18 (50%)

20

59 (45,7%)

31 (41,9%)

16 (43,2%)

12

105 (69,5%)

9

3

2

1

129

74

37

36

151

Terlihat bahwa persentase virus D3 selama letupan epidemi 1987 – 1988 melebihi 60% sama seperti hasil yang didapat pada epidemi di Bantul (Jawa Tengah) tahun 1976. Selama kurun waktu 1982 – 1985 angka kejadian DBD di kelurahan DKI Jakarta berkisar antara 23 – 45/100.000 penduduk dan hanya beberapa daerah saja dengan kejadian ≥ 80/100.000 penduduk. Selama letupan epidemi tahun 1987 – 1988 angka kejadian DBD berkisar antara 0 – 650/100.000 penduduk, rata-rata 155/100.000 penduduk.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB III

PENUTUP

 

3.1 KESIMPULAN

  • Spesies virus yang terdapat pada vektor nyamuk diantaranya yaitu virus dengue, virus yellow fever dan japanese encephalitis
  • Penyakit DBD melibatkan 3 organisme yaitu : Virus Dengue, nyamuk Aedes,dan host manusia. Secara alamiah ketiga kelompok organisme tersebut secara individu atau populasi dipengaruhi oleh sejumlah faktor lingkungan biologik dan lingkungan fisik. Penyakit di sebabkan oleh virus dengue, yellow fever dan japanese encephalitis memiliki endemisitas yang berbeda dari tahun ke tahun
  • Berdasarkan salah satu penelitian mengenai virus dengue maka yang paling sering ditemukan yaitu virus dengan serotype DEN 1, DEN 2, DEN 3, sedangkan DEN 4 jarang dan di dominasi oleh serotype DEN 3

 

3.2 SARAN

  • Untuk mengetahui jenis spesies virus yang lain maka perlu diadakan berbagai penelitian mengenai keberadaan spesies virus lain yang berasal dari vektor
  • Dari segi ekologi terjadinya dbd sangat dipengaruhi oleh perilaku manusia dan lingkungan fisik, oleh karena itu sangat perlu peningkatan kebersihan diri dan lingkungan
  • Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut untuk mengetahui tingkat virulensi virus di vektor atau kadar virus di vektor yang mampu menimbulkan penyakit.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Anonim.2008.Replikasivirus.http://www.bulletinveteriner.com/replikasi-virus-dengue-pada-kultur-sel-endotel-pembuluh-darah-kelinci/diakses 10 oktober 2010

Anonim.2008.Tinjauanpustaka.http://webcache.googleusercontent.com/jtptunimus-gdl-s1-2008-wastima2a0-484-3-bab2.diakses 2 oktober 2010

Anonim.2009.virulensivirus.http://webcache.googleusercontent.com/search?q=cache:R9oNE5MczioJ:ukmifabiopeduli.files.wordpress.com/2009/02/8-epidemiologi.doc+virulensi+vektor&cd=5&hl=id&ct=clnk&gl=id. Diakses 10 oktober 2010

Anonim.2010.Demamdengueanakhttp://www.klikdokter.com/medisaz/read/2010/07/05/218/demam-dengue.diakses 10 oktober 2010

Cahnsoedan.2009.Demamberdarahdengue.http://cahndesoedan.blogspot.com/2009/04/demam-dengue-demam-berdarah-dengue.htmldiakses 10 0ktober 2010

Djamaluddin,imam.2007.Hubunganantaradistribusiserotipevirusdenguedariisolatnyamukaedesspesiesdengantingkatendemisitasdbd.http://Hubunganantaradistribusiserotipevirusdenguedariisolatnyamukaedesspesiesdengantingkatendemisitasdbd /home/index2.php?option=com_content&do_pdf=1&id=1688 diakses 2 oktober 2010

Rustono.2009.Biologi.http://blog.unnes.ac.id/rustono/2009/10/09/biologi.diakses 10 oktober 2010

Sukamto.2007.http://webcache.googleusercontent.com/search?q=cache:R9oNE5MczioJ:ukmifabiopeduli.files.wordpress.com.pengukuranvirus.html diakses 2 oktober 2010

Widiyanto,teguh.2007.http://webcache.googleusercontent.com/search?kajianmanajemenlingkunganterhadapkejadiandbd.html. diakses 2 oktober 2010

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s