Pengendalian Vektor DBD

BAB I

PENDAHULUAN

 

1.1       LATAR BELAKANG MASALAH

Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) merupakan salah satu masalah kesehatan lingkungan yang cenderung meningkat jumlah penderita dan semakin luas daerah penyebarannya, sejalan dengan meningkatnya mobilitas dan kepadatan penduduk.

Nyamuk merupakan spesies dari arthropoda yang berperan sebagai vektor penyakit arthropod-born viral disease. Contoh spesies nyamuk yang berperan sebagai vektor penyakit arthropod-born viral disease adalah Aedes aegypti (Ae.aegypti). Nyamuk Ae. aegypti berperan sebagai vektor penyakit demam berdarah dengue (Sumarmo, 1988:4). Penyakit demam berdarah dengue (DBD) disebabkan oleh virus dengue. Virus dengue ditularkan pada manusia melalui gigitan nyamuk Ae. aegypti yang terinfeksi virus tersebut. DBD merupakan penyakit yang paling penting dari seluruh penyakit arthropod-born viral disease (WHO, 1997:6).

Indonesia secara umum mempunyai resiko terjangkit penyakit DBD karena vektor penyebabnya yaitu nyamuk Ae. aegypti tersebar luas di kawasan pemukiman maupun di tempat-tempat umum, Sehubungan dengan hal tersebut di atas maka pengendalian vektor sebagai salah satu upaya pemberantasan DBD masih merupakan upaya utama yang dilakukan guna memutus rantai penularan. Pengendalian nyamuk yang paling banyak dilakukan adalah pengendalian kimiawi menggunakan insektisida sintetis.

 

1.2       RUMUSAN MASALAH

        Rumusan masalah akan memberikan gambaran mengenai apa yang akan dibahas pada bab selanjutnya. Adapun rumusan masalah yang akan dibahas yaitu :

  1. Bagaimana gambaran umum tentang pengaruh pengendalian vektor secara kimiawi terhadap Ae.aegypty
  2. Apa dampak pengendalian vektor DBD secara kimiawi
    1. Apa solusi untuk mengatasi dampak pengendalian vektor DBD secara kimiawi

1.3       TUJUAN

1      Mengetahui gambaran umum tentang pengaruh pengendalian vektor DBD secara kimiawi terhadap nyamuk Ae. aegypti.

2      Mengetahui dampak pengendalian vektor DBD secara kimiawi

3      Mengetahui solusi untuk mengatasi dampak pengendalian vektor DBD secara kimiawi

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB II

PEMBAHASAN

 

2.1 PENYEBAB MASALAH

          Pengendalian vektor secara kimiawi dilakukan dengan menggunakan insektisida yang diaplikasikan secara .space spraying. yakni pengkabutan (thermal fogging) dan Ultra Low Volume (cold fogging). Insektisida Malathion yang termasuk golongan organofosfat sudah digunakan sejak tahun 1972 di Indonesia (Sudyono, 1983). Pengendalian vektor secara kimiawi dilakukan dengan menggunakan insektisida yang diaplikasikan secara .space spraying. yakni pengkabutan (thermal fogging) dan Ultra Low Volume (cold fogging). Insektisida Malathion yang termasuk golongan organofosfat sudah digunakan sejak tahun 1972 di Indonesia (Sudyono, 1983). Selain itu insektisida Bendiocarb dari golongan karbamat dengan formulasi ULV juga pernah diuji coba (Hadi, et.al., 1993). Agar ada alternatif/pilihan insektisida lain yang dapat digunakan dalam pengendalian vektor DBD maka telah banyak diuji coba insektisida dari golongan lainnya. Sehubungan dengan hal tersebut di atas maka dilakukan uji coba beberapa insektisida golongan pyrethroid sintetik terhadap vektor DBD Aedes aegypti yang dibandingkan dengan Malathion (Malathion 95%). Insektisidainsektisida tersebut masing-masing mempunyai kandungan bahan aktif alphacypermethrin (Fendona 30 EC); cypermethrin (Cynoff 25 ULV); lamdacyhalothrin (ICON 25 EC).

Secara umum semua bahan aktif tersebut cukup ampuh mengendalikan berbagai serangga pengganggu kesehatan. Meskipun pada dosis aplikasi yang rendah alphacypermethrin efektif sebagai racun kontak dan telan demikian halnya lambdacyhalothrin. Sementara itu untuk cypermethrin agar memberikan hasil pengendalian yang relatif sama dibutuhkan dosis yang relatif lebih tinggi.Selain itu insektisida Bendiocarb dari golongan karbamat dengan formulasi ULV juga pernah diuji coba (Hadi, et.al., 1993). Agar ada alternatif/pilihan insektisida lain yang dapat digunakan dalam pengendalian vektor DBD maka telah banyak diuji coba insektisida dari golongan lainnya. Sehubungan dengan hal tersebut di atas maka dilakukan uji coba beberapa insektisida golongan pyrethroid sintetik terhadap vektor DBD Aedes aegypti yang dibandingkan dengan Malathion (Malathion 95%). Insektisida-insektisida tersebut masing-masing mempunyai kandungan bahan aktif alphacypermethrin (Fendona 30 EC); cypermethrin (Cynoff 25 ULV); lamdacyhalothrin (ICON 25 EC). Secara umum semua bahan aktif tersebut cukup ampuh mengendalikan berbagai serangga pengganggu kesehatan. Meskipun pada dosis aplikasi yang rendah alphacypermethrin efektif sebagai racun kontak dan telan demikian halnya lambdacyhalothrin.Sementara itu untuk cypermethrin agar memberikan hasil pengendalian yang relatif sama dibutuhkan dosis yang relatif lebih tinggi.

            Adapun hasil Persentase pingsan/kematian nyamuk Ae. aegypti yang terpapar ketiga bahan aktif insektisida di dalam rumah setelah 30 menit; 60 menit (1 jam) dan kematian setelah disimpan selama 24 jam sebagai berikut :

Setelah 30 menit Persentase pingsan/mati setelah terpapar selama 30 menit paling banyak pada malathion (100%) sedangkan yang paling sedikit pada lambdacyhalothrin (26,6%). Persentase pingsan/mati akibat paparan alphacypermethrin dan cypermethrin berturut-turut sebanyak 79,2% dan 72,8%. Setelah 60 menit (1 jam) Seiring dengan bertambahnya waktu papar maka persentase pingsan/mati juga bertambah untuk alphacypermethrin; cypermethrin dan lambdacyhalothrin masing-masing berturut-turut menjadi 83,6%; 91,6% dan

39,2%. Sementara itu untuk malathion persentase pingsan/mati masih tetap 100%.

Setelah 24 jam Pengamatan setelah penyimpanan selama 24 jam tidak menunjukkan adanya penambahan kematian nyamuk yang cukup tinggi. Untuk malathion persentase kematiannya tetap paling tinggi yakni 100% sedangkan untuk alphacypermethrin; cypermethrin dan lambdacyhalothrin berturut-turut menjadi sebesar 86%; 93,6% dan 48,8% .Persentase pingsan/mati nyamuk Ae.aegypti yang terpapar ketiga bahan aktif insektisida di luar rumah setelah 30 menit; 60 menit (1 jam) dan kematian setelah disimpan di laboratorium selama 24 jam sebagai berikut Setelah 30 menit Serupa dengan hasil paparan di dalam rumah, persentase pingsan/mati nyamuk tertinggi didapat pada malathion (99,6%) sedangkan yang terendah pada lambdacyhalothrin (35,6%). Paparan alphacypermethrin dan cypermethrin menghasilkan persentase pingsan/mati berturut-turut sebesar 78,8% dan 70,8%. Setelah 60 menit (1 jam) Jumlah nyamuk yang pingsan/mati semakin bertambah seiring dengan bertambah lamanya waktu papar masing-masing bahan aktif insektisida. Persentase pingsan/mati yang diperoleh sebesar 86,4%; 100%;80,4% dan 54% masing-masing berturut-turut untuk alphacypermethrin; malathion; cypermethrin dan lambdacyhalothrin. Setelah 24 jam Persentase kematian nyamuk setelah disimpan selama 24 jam di laboratorium menunjukkan peningkatan untuk masing-masing bahan aktif insektisida. Kecuali untuk malathion peningkatan persentase kematian untuk insektisida lain berkisar antara 2 . 6%.Persentase kematian untuk alphacypermethrin; cypermethrin dan lambdacyhalothrin

berturut-turut menjadi 88,8%; 86,4% dan 58,8%.

            Dosis yang digunakan pada uji coba merupakan dosis yang biasa diaplikasikan pada pengabutan (thermal fogging). Tampak di sini bahwa untuk satuan luas yang sama yakni 1 ha diperlukan dosis cypermethrin yang jauh lebih tinggi dibanding alphacypermethrin dan lambdacyhalothrin yakni 300 ml/ha. Jika memperhatikan persentase nyamuk yang pingsan/mati pada pengamatan 30 menit dan 60 menit (1 jam) setelah pengabutan baik terhadap nyamuk yang ada di dalam maupun di luar rumah tampak bahwa .knock down effect. malathion paling besar sementara lambdacyhalothrin paling kecil.Hal serupa terlihat pula setelah disimpan (holding) di laboratorium selama 24 jam dimana persentase kematian akibat paparan lambdacyhalothrin lebih kecil dari 70%.

Dengan uji statistik menggunakan Oneway Anova dan LSD terbukti bahwa persentase kematian akibat paparan lambdacyhalothrin berbeda nyata (α = 0,05) dengan paparan ketiga bahan aktif insektisida lainnya (alphacypermethrin; malathion dan cypermethrin) sementara persentase kematian akibat paparan ketiga bahan aktif insektisida tersebut tidak saling berbeda nyata. Rendahnya persentase kematian tersebut tampaknya sesuai dengan hasil penelitian yang pernah dilakukan di Indonesia pada tahun 1996 dimana hasil uji kerentanan yang pernah di lakukan terhadap insektisida yang berbahan aktif lambdacyhalothrin membuktikan bahwa Ae. aegypti telah resisten terhadap bahan aktif tersebut (Herath, 1997). Jadi dosis aplikasi lambdacyhalothrin yang digunakan pada uji coba kurang mampu memberikan hasil sesuai dengan yang diharapkan. Pada uji coba yang pernah dilakukan terbukti pula bahwa persentase kematian nyamuk Ae.aegypti akibat paparan malathion pada uji kerentanan malathion dengan .discriminating dosages. yang digunakan masih tinggi yakni berkisar antara 98 . 100% (Herath, 1997).

Penelitian lain mengemukakan bahwa di beberapa negara Asian seperti Malaysia, Singapura dan Thailand, usaha untuk pemberantasan DBD ini lebih terfokus kepada pengendalian vektornya (Das, et al., 1982).Dalam usaha pemutusan rantai penularan penyakit ini telah dilakukan pengendalian baik terhadap stadium larva yaitu abatisasi dengan menggunakan insektisida golongan organofosfat temefos dan foging terhadap nyamuk ,dewasa dengan malation yang dilaksanakan secara rutin setiap 1-2 bulan sekali, sampai saat ini dinyatakan bahwa kedua macam insektisida tersebut mulai resisten terhadap Ae.aegypti (WHO, 1981; Upatham 1982;Lee 1984;Mazzari & Gorghiou 1995).

Di Indonesia belum pernah dilaporkan bahwa Ae.aegypti resisten terhadap abate dan malation, hal ini diperkuat dari hasil laporan Sungkar & ZuIhasril (1997). Berkembangnya resistensi vektor DBD terhadap insektisida golongan organofosfat ini mungkin saja terjadi setelah beberapa waktu kemudian. Oleh karena itu untuk mengatasi masalah resistensi vektor terhadap suatu insektisida, WHO telah merekomendasikan piretroid sintetik yaitu permetrin sebagai suatu insektisida untuk digunakan dalam pengendalian vektor, karena insektisida ini selain lebih aman dan tidak berbahaya terhadap mammalia dan organisme non target, juga mempunyai daya bunuh cepat dan mempunyai efikasi lebih lama (WHO1989).Piretroid sintetik ini termasuk kedalam kelompok racun syaraf yang bekerja cepat pada susunan syaraf pusat dan syaraf tepi juga bersifat sebagai racun kontak terhadap serangga (Matsumura, 1985). Hasil uji permetrin di lapangan terlihat bahwa pad a saat dimulainya pengujian, jumlah larva dalam kendi masing masing berkisar antara 14 – 18 larva. Setelah 24 jam pemberian permetrin ke dalam masing masing kendi percobaan terlihat kematian larva 100%, baik pada kendi di luar maupun kendi yang berada di dalam laboratorium, sedangkan pada kontrol semua larva masih tetap hidup.

Pada pengamatan selanjutnya yaitu 48 jam setelah pemaparan permetrin masih belum terlihat adanya larva pada setiap kendi percobaan. Pada pengamatan hari ke 20 sejak perlakuan masih belum ditemukan larva. Percobaan pada kendi yang berada di luar laboratorium dihentikan pada hari ke 20 ini karena air dalam kendi menjadi kering, sedangkan pengamatan untuk kendi yang berada di dalam laboratorium dilanjutkan sampai pada hari ke 28 setelah perlakuan dan masih belum ditemukan larva dan pengamatan dihentikan pada hari ke 28 karena air dalam kendi juga mulai menjadi habis. Hasil ini menunjukkan bahwa daya residu permetrin dapat digunakan untuk pengendalian larva Ae.aeg1jpti di alam dan dapat bertahan sekitar 3 sampai 4 minggu atau mungkin lebih Efektifitas permetrin terhadap larva Ae.aegypti yang diperoleh dari percobaan ini lebih kuat dibandingkan dengan hasil yang dilaporkan oleh peneliti terdahulu. Pada percobaan ini diperoleh LCso adalah 0.000257 mg/l atau 5.8 kali lebih kuat dibandingkan dengan LCso yang dilaporkan Winita (1994) yaitu hanya sebesar 0.0015 mg/l, sedangkan LC9S yang didapat dari percobaan ini adalah 0.000667 mg/l dan ini terlihat 6 kali lebih kuat dari hasil yang dilaporkan Winita yaitu 0.0040 mg/l, dan 40 kali lebih kuat bila dibandingkan hasil yang dilaporkan Mazzari dan Georghiou (1995) yang hanya mendapatkan hasil 0.027mg/I.

Terlihatnya perbedaan yang sangat bermakna ini disebabkan karena strain larva yang diuji berbeda, dan sehingga memberikan. respon yang tidak sama. Faktor lain yang mempengaruhi sensitivitas ini ini adalah generasi dari larva yang dipelihara di laboratorium, dimana pada percobaan ini larva yang digunakan merupakan larva generasi pertama kolonisasi laboratorium sedangkan Winita menggunakan larva kolonisasi laboratorium generasi ke 72 sehingga memberikan tingkat kepekaan yang berbeda.Hasil uji lapangan yang diperoleh dari percobaan ini sedikit berbeda bila dibandingkan dengan hasil peneliti sebelumnya, dimana efek residu yang diperoleh hanya mencapai 3 minggu (hari ke 20) untuk kendi di luar dan 4 minggu (hari ke 28) untuk kendi yang di dalam laboratorium,sedangkan hasil yang dilaporkan oleh Winita efek residu pada uji lapangan dapat mencapai sampai 7 minggu (sampai hari ke 49).

Adanya perbedaan ini disebabkan karena perbedaan dari ukuran dan bahan  yang menyusun kendi yang digunakan. Pada percobaan ini, kendi yang digunakan berukuran kedl dengan volume hanya 1 liter, sedangkan peneliti lainnya menggunakan kendi dengan volume 5 liter. Selain berukuran lebih kedl, kendi yang digunakan terbuat dari tanah liat sehingga dindingnya mempunyai pori-pori yang lebih besar dan mengakibatkan penguapan lebih cepat. Berbeda dengan kendi yang digunakan peneliti sebelumnya selain berukuran besar, kendi terbuat dari keramik dengan permukaan bagian dalam lebih licin sehingga penguapan lebih rendah. Faktor lain yang cukup berpengaruh pada percobaan ini adalah cuaca, dimana percobaan ini dilaksanakan justru pada musim kemarau sehingga mempercepat penguapan air dalam kendi yang digunakan dan menyebabkan air dalam kendi akan lebih cepat berkurang sehingga penelitian lebih cepat dihentikan. Percobaan pengaruh permetrin terhadap ikan pada penelitian ini memberikan gambaran bahwa permetrin tidak memberikan pengaruh negatif terhadap organisme yang tidak ditargetkan, dengan kata lain bahwa permetrin ini aman bila digunakan di lapangan karena tidak akan mencemari lingkungan.

Selain pengguna insektisida sintetis, terdapat pula hasil penelitian lain mengenai pengendalian vektor DBD akan tetapi dengan menggunakan insektisida botani (hayati) salah salah satunya nikotin yang terkandung pada tembakau dan juga eugunol yang terkandung pada cengkeh yang dimana dilakukan penyemprotan ekstrak limbah rokok gudang garam filter. Uji pendahuluan awal peneliti telah mencoba dengan konsentrasi 50gr/l, 75gr/l, dan 100gr/l. Diperolehlah konsentrasi awal 100 gr/l dijadikan untuk mencari optimal untuk membunuh 50% nyamuk Ae.aegypty

Berdasarkan pengamatan dan perhitungan jumlah nyamuk Aedes aegypty yang pada kotak perlakuan dan kontrol selang 2,3,4 jam penyemprotan ekstrak limbah rokok gudang garam filter menunjukkan bahwa jumlah kematian Aedes aegypty tertinggi dari seluruh replikasi terjadi pada konsentrasi 140 gr/l yaitu sebanyak 33 ekor dengan rata-rata 11 ekor dari setiap replikasi. Jumlah kematian nyamuk Aedes aegypty terendah dari seluruh replikasi terjadi pada konsentrasi 100 gr/l yaitu sebanyak 14 ekor dengan rata-rata 4,7 ekor. Sedangkan pada kelompok kontrol jumlah nyamuk Aedes aegypty yang mati dari seluruh replikasi tidak ada (nihil)

Secara presentase rata-rata nyamuk Aedes aegypty yang mati dari tiga replikasi pada perlakuan dan kontrol terdapat perbedaan yang nyata. Pada konsentrasi 100 gr/l persentase kematian nyamuk Aedes aegypty adalah 23,35% sedangkan pada kontrol tidak terjadi kematian nyamuk Aedes aegypty atau 0%. Melihat dari persentasi kematian nyamuk Aedes aegypty bahwa semakin tinggi  konsentrasi penyemprotan ekstrak limbah rokok gudang garam filter maka semakin tinggi tingkat kematian nyamuk aedes aegypty.

 

2.2 PEMBAHASAN HASIL DAN DAMPAK KESEHATAN

Penggunaan insektisida sintetik sangat efektif, relatif murah, mudah dan praktis diaplikasikan, tetapi penggunaan dalam jangka panjang dapat menimbulkan berbagai hal yang tidak diinginkan seperti kontaminasi terhadap manusia, hewan, satwa liar ikan dan biota lainnya. Selain itu serangga menjadi resiten, resurgensi atau toleran terhadap insektisida (Metcalf. 1985).

Alasan pemilihan pengendalian tersebut adalah karena hasilnya dapat dilihat secara cepat dan langsung, sementara pengendalian nyamuk lainnya memerlukan waktu yang lama dalam melihat hasilnya. Tetapi pengendalian kimiawi menggunakan insektisida sintetis ternyata menimbulkan efek samping yang merugikan, seperti nyamuk menjadi resisten, terjadinya keracunan pada manusia dan hewan ternak, terjadinya kontaminasi terhadap kebun sayuran dan buah, serta polusi lingkungan (North Dakota State University, 1991).

Berdasarkan hasil uji coba yang telah dilakukan yakni penggunaan insektisida yang menggunakan alphacypermetrin, cypermetrin,dan malation, terbukti bahwa pada dosis-dosis aplikasi tersebut di atas, daya bunuh alphacypermethrin dan cypermethrin yang setara dengan malathion, terhadap nyamuk Ae. aegypti yang berasal dari daerah setempat, lebih baik dibanding lambdacyhalothrin. Namun demikian seperti halnya insektisida golongan pyrethroid sintetik umumnya salah satu keunggulannya ialah pada penggunaan yang cukup lama tidak perlu dilakukan pemeriksaan kadar cholinesterase dalam darah operatornya sebagaimana harus dikerjakan pada insektisida golongan organofosfat (malathion).

     Pada penggunaan insekitisida pyrethroid sintetik dalam percobaan diatas dampak dari segi lingkungan dapat mengakibatkan terjadinya pencemaran udara di dalam rumah karena terkandung bahan kimia yang belum tentu bisa di terima oleh tubuh yang bisa saja beracun dan dihirup oleh tubuh, sehingga menyebabkan individu terpapar akan bahaya bahan kimia tersebut. Dari segi vektor, maka cukup signifikan jumlahnya yang dapat diberantas daripada yang menggunakan limbah rokok.

     Berdasarkan hasil penelitian pengaruh permetrin terhadap larva Ae.aeg1jpti yang diselenggarakan baik uji bioassay maupun uji di lapangan dapat disimpulkan bahwa: Efektifitas permetrin 5.8 kali dan 6 – 40 kali lebih kuat terhadap larva Ae.aegtJpti, dengan daya residu berkisar antara 3-4 minggu dan residu permetrin ini tidak menyebabkan kematian terhadap organisme yang tidak ditargetkan terutama ikan.

     Pada penggunaan insektisida pyrethroid sintetik yakni permetrin dari segi lingkungan aman untuk digunakan karena telah dilakukan pengujian  di lapangan dan hasil yang ditemukan tidak mencemari lingkungan sekitarnya. Dari segi vektor, senada dengan pengamatan sebelumnya akan tetapi pada penggunaan ini dapat dilakukan pula dilapangan karena tidak menyebabkan pencemaran yang begitu berbahaya.

     Pada pengamatan penggunaan penyemprotan ekstrak limbah rokok gudang garam filter maka dari aspek kesehatan lingkungannya penggunaan insektisida botani tersebut (hayati) memiliki daya racun yang kuat terhadap serangga dan tidak begitu berbahaya pada manusia dan lingkungan. Selain itu limbah rokok tersebut tidak dibuang secara percuma tetapi dapat digunakan kembali sebagai bahan insektisida dalam pengendalian vektor DBD, dari segi jumlah vektor DBD yang dapat dikendalikan tergantung daripada jumlah konsentrasi penyemprotan ekstrak limbah rokok gudang garam filter, dari data penelitiannya tidak begitu banyak jumlah vektor DBD yang terberantas dari penggunaan tersebut.

            Pada saat ini, sebagai akibat dari penggunaan insektisida yang kurang bertanggung jawab, maka timbul masalah baru yakni terjadinya resistensi pada serangga tersebut dan muncul pula sebagai akibat sampingan lainnya, yakni dengan ikut matinya binatang lain yang terkena (Azwar, 1995). Dilain pihak dengan penggunaan insektisida yang kurang bijaksana (khususnya yang bersifat sintetis) sering merugikan terhadap lingkungan, termasuk pencemaran air, bahan pangan dan dapat menimbulkan gangguan kesehatan pada manusia secara langsung atau dalam jangka waktu yang panjang. Bahaya insektisida sintetis dapat menimbulkan kanker, gangguan saraf dan reproduksi dan keracunan pada umumnya (Kusnaedi, 1997)

 

2.3 SOLUSI

Untuk menghindari dampak negatif tersebut, maka perlu dikembangkan cara – cara baru dalam pengendalian serangga yang aman dan efektif. Pengendalian serangga dengan pemanfaatan tanaman yang mengandung zat pestisidik sebagai insektisida hayati, diperkirakan mempunyai prospek dimasa yang akan datang (Kardinan, 1999). Secara umum, insektisida nabati (hayati) diartikan sebagai suatu pestisida yang bahan dasarnya berasal dari tumbuhan. Insektisida nabati relatif mudah dibuat dengan kemampuan dan pengetahuan terbatas. Oleh karena terbuat dari bahan alami / nabati maka jenis pestisida ini bersifat mudah terurai (biodegradable) di alam sehingga tidak mencemari lingkungan dan relatif aman bagi manusia dan ternak peliharaan karena residunya mudah hilang. Insektisida nabati bersifat “pukul dan lari” (hit and run), yaitu apabila diaplikasikan akan membunuh serangga pada waktu itu dan setelah serangga terbunuh, maka residunya akan cepat menghilang di alam.

 Mengingat tempat perkembangbiakan larva vektor DBD pada penampungan air yang airnya digunakan bagi kebutuhan sehari-hari terutama untuk minum dan masak, maka larvisida yang digunakan harus mempunyai sifat-sifat sebagai berikut: efektif pada dosis rendah, tidak bersifat racun bagi manusia/mamalia, tidak menyebabkan perubahan rasa, warna, dan bau pada air yang diperlakukan, dan efektivitasnya lama. Beberapa larvisida dengan kriteria seperti tersebut di atas sebagian telah digunakan secara luas (operasional) dan sebagian lainnya masih dalam tahap uji laboratorium atau uji lapangan skala kecil.

            Selain itu dalam penggunaan insektisida sebaiknya dilakukan penyeleksian sehingga menimalisir dampak yang memungkinkan dapat terjadi akibat penggunaannya. Beberapa faktor yang perlu diperhatikan dalam melakukan seleksi terhadap insektisida antara lain:

  1. Efektifitas residual. Pada area trasmisi perennial di mana indoor residual spraying dengan pestisida dipertimbangkan, maka efektifitas residual maksimal sesuai yang diinginkan
  2. Keamanan. Toksisitas akut dan kronik dari suatu insektisida, persistensi lingkungan, dan akumulasi residu pada tubuh manusia perlu diperhitungkan
  3. Susceptibilitas vector. Susceptibilitas target populasi vektor terhadap insektisida adalah penting
  4. Pengaruh terhadap suatu penyakit. Kemampuan insektisida untuk mengurangi insidensi penyakit harus dievaluasi dan dipastikan kembali
  5. Excite repellency. Saat konsekuensi epidemiologik efek excito-repellent dari insektisida tidak dimengerti secara benar-benar, maka efek tersebut harus dapat diperhitungkan saat operasional penyemprotan. Hal tersebut akan tidak berguna jika nyamuk melarikan diri dari penyemprotan insektisida sebelum terpapar dosis lethal. Tetapi jika repellency mengarah pada pengurangan kemungkinan kontak manusia dengan vector (dengan membawa nyamuk dari manusia ke hewan di luar rumah), maka hal itu baru dapat bermanfaat.
  6. Biaya. Program harus ditentukan dan terdokumentasi. Hal ini meliputi biaya insektisida dan frekuensi aplikasi, alat penyemprot, transportasi, dan tenaga kerja.
  7. Manajemen resistensi insektisida. Ilmu penggunaan insektisida bukan saja digunakan dalam bidang agrikultur, tetapi juga untuk mempelajari mekanisme resistensi target populasi vektor dan perkembangan resistensi secara sempit maupun luas dapat dijadikan pedoman untuk seleksi insektisida untuk meminimalkan masalah resistensi
  8. Spesifikasi insektisida. Efikasi suatu produk yang digunakan dalam kesehatan masyarakat tergantung pada kekayaan fisik dan kimiawi dari gabungan formulasi. Spesifikasi pestisida oleh WHO dinyatakan bahwa penggunaan insektisida bervariasi pada beberapa spesifikasi penggunaan pada agricultural. Hal ini penting bahwa untuk pengendalian vector malaria dan vector borne disease lain, perlu diperimbangkan beberapa insektisida yang direkomendasikan oleh WHO. Penggunaan insektisida dengan spesifikasi tertentu harus di bawah pengawasan institusi independen.

Faktor-faktor tersebut diatas jika dapat dilakukan maka sedapat mungkin mampu mengurangi resiko angka keterpaparan bahan kimia terhadap diri seseorang bahkan untuk menghindari resiko terjangkitinya jenis penyakit baru dalam diri manusia, namun jauh daripada itu dalam pengelolaan lingkungan yakni menjaga kebersihan lingkungan jauh lebih penting, karena lingkungan yang bersih mampu mengurangi resiko ditemukannya vektor DBD dan mampu menjaga akibat terjadinya pencemaran lingkungan jika terkontaminasi dengan bahan kimia akibat penggunaan insektisida. Oleh karena itu menjaga kebersihan diri dan lingkungan jauh lebih diutamakan sebelum melakukan tindakan lain.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB III

PENUTUP

 

3.1  KESIMPULAN

Berdasarkan dari pembahasan bab sebelumnya maka dapat dikemukakan kesimpulan bahwa

v  Dari beberapa penelitian menunjukkan bahwa penggunaan insektisida mampu menurunkan jumlah vektor DBD dengan beberapa perlakuan tertentu.

v  Selain mampu menurunkan jumlah nyamuk Aedes agypty maka penggunaan insektisida masih belum dikatakan sepenuhnya bebas dari dampak lainnya, penggunaan insektisida mampu memberi dampak terhadap pencemaran lingkungan yakni terkontaminasinya udara, tanah dan air dengan bahan kimia dari jenis insektisida dan bahkan berdampak pada kesehatan manusia yang dapat mengakibatkan manusia terpapar oleh bahan kimia yang dapat menimbulkan jenis penyakit baru bahkan penyakit kanker.

v  Penggunaan insektisida dampak digantikan dengan cara pengendalian lain seperti pengendalian secara hayati. Untuk menghindari penggunaan insektisida yang dapat membahayakan penyakit, maka dengan menjaga kebersihan diri dan kebersihan lingkungan jauh lebih efektif untuk menghindari terjangkitinya virus DBD dan keterpaparan terhadap bahan kimia dari insektisida.

 

3.2  SARAN

v Beberapa penelitian ini perlu dilanjutkan terutama uji coba di lapangan, untuk mengetahui zat pestisidik lain yang terkandung di dalamnya.

v Sebaiknya dalam penggunaan insektisida dilakukan proses seleksi terlebih dahulu jenis insektisida seperti apa yang pantas digunakan sehingga tidak  berdampak buruk pada manusia dan lingkungan

v Jika memungkinkan maka pengendalian secara kimiawi yakni insektisida sintetis sebaiknya digantikan dengan insektisida botani (hayati). Atau dapat dilakukan pengendalian secara hayati yang tidak menggunakan bahan kimia yang dapat berbahaya pada manusia dan lingkungan.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Suwasono,Hadi dan Soekirno,M.2004.Uji Coba Beberapa Insektisida. http://webcache.googleusercontent.com/search?q=cache:7CK_Y259AG4J:repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/16400/5/Chapter%2520I.pdf+uji+coba+beberapa+insektisida+DBD&hl=id&gl=id.diakses 19 september 2010 (bahan: Heriyati)

Yudhastuti,riridanVidiyani,anni.2005.Hubungankondisislingkungan,kontainer,dan perilaku masyarakat dengan keberadaan jentik nyamuk aedes aegypty di daerah endemis DBD surabaya.http://JURNALKESHLING/volume 1 No. 2/Word. Diakses 18 september 2010 (bahan: Muh.Asnawir)

Suprapto.2006.PemanfaatanLimbahRokokDalamPengendalianNyamukAedesAegypty.Sumatera:JurnalIlmiahPANMED.http://www.usu.ac.id diakses pada tanggal 19 september 2010  (bahan: Heriyati)

Zulhasril.2006.Penggunaan piretroid sintetik (permetrin) dalam pengendalian larva vektor demam berdarah dengue (Aedes aegypti L).JurnalKedokteranYarsi. http://www.univpancasila.ac.id. Diakses pada tanggal 19 september 2010 (bahan : Heriyati)

Anonym.2009. DAYA BUNUH EKSTRAK SERAI (Andropogen nardus) TERHADAP NYAMUK Aedes aegypti.http:// kumpulan skripsi semua jurusan/2009/AllRightsReserved/Blogerizedb Subagya. Diakses pada 18 september 2010 (bahan : Irawati)

Anonym.2010.EfektivitasRimpangJeringau.http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/16400/5/Chapter%20I.pdf.diakses 6 oktober 2010

Anonym.2010.Ujidayabunuhekstrakcabairawit.http://kampusskripsi.blogspot.com/2010/02/uji-daya-bunuh-ekstrak-cabai-rawit.html.diakses  20 september 2010 (bahan:Nasrah)

Martha,shabreen.2010.Pengendalian vektor secara kimiawi. http://shabreen-martha.blogspot.com/2010/08/pengendalian-vektor-secara-imiawi.html.diakses 6 oktober 2010

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s